
Narasi seputar kepemilikan emas batangan seberat puluhan ton oleh Presiden Soekarno yang konon disimpan di bank-bank Swiss telah lama menjadi perbincangan. Gosip ini bahkan berkembang hingga mengklaim bahwa emas tersebut sempat dipinjamkan kepada Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy untuk keperluan pembangunan negaranya. Namun, setelah ditelusuri lebih lanjut melalui catatan sejarah dan kesaksian dari orang-orang terdekat, kebenaran di balik rumor tersebut justru terkuak, menunjukkan bahwa gambaran kemewahan dan kekayaan yang melekat pada Soekarno sejatinya tidak berdasar.
Fakta sejarah yang tersedia justru melukiskan potret yang kontras dengan rumor fantastis tersebut. Selama masa kepemimpinannya sebagai Presiden, Soekarno diketahui hidup dalam kondisi finansial yang sederhana, bahkan cenderung sulit. Hal ini diperkuat oleh pengakuannya sendiri dalam sebuah wawancara dengan jurnalis Amerika, Cindy Adams. Soekarno secara terang-terangan menyatakan bahwa gajinya sebagai presiden hanya sejumlah kecil dan ia tidak memiliki properti pribadi seperti rumah atau tanah. Kondisi ini menyebabkan ia harus tinggal di istana negara sepanjang masa jabatannya.
Lebih jauh, dalam wawancara yang sama, Soekarno menceritakan pengalaman pribadinya yang menunjukkan keterbatasannya. Ia pernah mendapatkan piyama baru dari seorang duta besar yang merasa iba melihat pakaian tidurnya yang sudah usang dan robek. Kisah ini menjadi bukti kuat akan kesederhanaan hidup yang dijalani sang proklamator. Ia bahkan mempertanyakan apakah ada kepala negara lain yang mengalami kesulitan finansial serupa hingga harus meminjam uang dari ajudannya.
Putra pertama Soekarno, Guntur Soekarnoputra, juga secara konsisten membantah rumor mengenai harta kekayaan ayahnya. Dalam sebuah kolom opini yang diterbitkan di Media Indonesia pada September 2020, Guntur menegaskan bahwa ayahnya tidak pernah memiliki kekayaan melimpah, apalagi logam mulia seperti yang digembar-gemborkan. Ia menceritakan bahwa Soekarno bahkan kerap meminjam uang dari sahabat-sahabatnya sejak masa perjuangan.
Guntur secara spesifik menyoroti ketidaklogisan klaim tentang emas berton-ton yang disimpan di bank Swiss. Menurutnya, kapasitas ruang penyimpanan di bank-bank Swiss sekalipun tidak akan cukup untuk menampung emas sebanyak itu. Pernyataan Guntur didukung oleh pandangan sejarawan terkemuka Indonesia, Ong Hok Ham, yang dalam karyanya \"Kuasa dan Negara\" (1983) secara tegas membantah mitos harta karun Soekarno. Ong Hok Ham juga menolak gagasan bahwa Soekarno mewarisi kekayaan dari kerajaan kuno, karena pada kenyataannya, kerajaan Mataram Islam sendiri diyakini masih memiliki utang pada masa itu.
Secara keseluruhan, bukti-bukti historis dan kesaksian dari orang-orang terdekat dengan Soekarno secara meyakinkan menunjukkan bahwa narasi tentang emas batangan 57 ton yang dimilikinya dan disimpan di bank Swiss hanyalah sebuah mitos belaka. Kondisi finansial Soekarno sepanjang hidupnya, bahkan hingga akhir hayatnya, jauh dari citra kemewahan yang sering kali dilekatkan pada rumor tersebut. Sebaliknya, ia dikenal sebagai pemimpin yang hidup sederhana dan berjuang demi kemerdekaan bangsanya.
