
Pada hari Kamis, pasar saham Indonesia dihebohkan oleh pergerakan mendadak dari PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), sebuah perusahaan pertambangan terkemuka yang terafiliasi dengan Grup Salim. Saham AMMN melonjak tajam, mengakhiri sesi perdagangan pagi dengan kenaikan lebih dari 15%. Lonjakan ini terjadi setelah periode yang penuh gejolak di awal pekan, di mana harga sahamnya sempat mengalami koreksi signifikan. Fenomena ini menarik perhatian banyak investor dan analis, memicu diskusi mengenai faktor-faktor di balik volatilitas ekstrem ini.
Performa mengejutkan AMMN pada sesi pertama hari ini, Kamis (7/8/2025), menunjukkan kenaikan 15,51% yang membawa harga sahamnya ke level Rp 8.750. Pergerakan harga saham AMMN bervariasi antara Rp 8.225 dan Rp 9.075, dengan total kapitalisasi pasar mencapai Rp 634,6 triliun. Kenaikan ini terasa kontras dengan kinerja sebelumnya, di mana pada perdagangan kemarin, saham AMMN sempat melemah 0,33% ke Rp 7.575. Lebih lanjut, pada awal pekan, saham tersebut bahkan anjlok hingga 14,75%, mengindikasikan ketidakpastian yang cukup tinggi sebelum rebound saat ini.
Data perdagangan menunjukkan bahwa hingga istirahat siang, ada sekitar 76.462 lot saham AMMN yang mengantre untuk dijual. Antrean penjualan terbesar terlihat pada harga Rp 9.075, yang mencerminkan kenaikan 20% dan mencapai batas auto reject atas (ARA). Di sisi lain, ada sekitar 55.789 lot saham yang mengantre untuk dibeli, dengan permintaan signifikan sebanyak 10.589 lot pada harga Rp 7.700. Ini menunjukkan adanya minat yang kuat dari pembeli meskipun ada tekanan jual yang besar.
Keterlibatan Grup Salim dalam kepemilikan AMMN sangat mencolok. Grup ini pertama kali mengakuisisi saham AMMN melalui Penawaran Umum Perdana (IPO) lewat PT Sumber Gemilang Persada (SGP). Per 30 Juni 2025, SGP memegang 32,17% saham AMMN. Selain itu, Grup Salim juga memiliki kepemilikan tidak langsung di AMMN melalui Medco, di mana Diamond Bridge Pte. Ltd., yang terafiliasi dengan Grup Salim, merupakan salah satu pemegang saham utama Medco. Jaringan kepemilikan Grup Salim di AMMN juga meluas melalui PT Pesona Sukses Cemerlang (PSC), yang dimiliki oleh Fast Food Indonesia (FAST), pengelola restoran KFC di Indonesia, serta Edie Herjadi, yang dikenal memiliki hubungan dengan perusahaan-perusahaan Grup Salim. Setelah IPO, kepemilikan tidak langsung Anthoni Salim di AMMN mencapai 7,14%. Secara keseluruhan, diperkirakan Grup Salim menguasai sekitar 43,72% saham AMMN melalui berbagai entitas bisnisnya.
Pergerakan harga saham AMMN ini mencerminkan dinamika yang kompleks dalam pasar modal, di mana sentimen investor dan struktur kepemilikan memainkan peran penting. Meskipun sempat mengalami koreksi tajam, lonjakan saat ini menunjukkan kepercayaan pasar yang kembali tumbuh terhadap prospek perusahaan, didukung oleh fondasi kuat dari Grup Salim. Volatilitas ini juga menyoroti pentingnya analisis mendalam terhadap struktur kepemilikan dan afiliasi grup bisnis dalam menilai kinerja saham.
