
Dalam beberapa dekade terakhir, Tiongkok menghadapi tantangan serius akibat ketidakseimbangan gender yang signifikan. Menurut data terbaru, jumlah pria melebihi perempuan sebanyak 30 juta jiwa. Kondisi ini menciptakan situasi sulit bagi banyak pria muda, terutama mereka dari kelas bawah, untuk menemukan pasangan hidup. Film dokumenter "The Dating Game" oleh Violet Du Feng merekam upaya sekelompok pria desa yang berjuang melawan stigma sosial serta memanfaatkan layanan pelatih kencan untuk meningkatkan peluang mereka. Dampak kebijakan satu anak pada tahun 1980-an masih dirasakan hingga kini, dengan budaya preferensi anak laki-laki yang menyebabkan hilangnya bayi perempuan secara besar-besaran. Meski kebijakan tersebut telah dicabut pada tahun 2016, efek buruknya tetap membayangi generasi muda.
Perjalanan Haru Menuju Cinta dalam Kota Besar
Pada malam hari di Chongqing, salah satu megapolitan terbesar dunia, tiga pria muda—Li (24), Wu (27), dan Zhou (36)—melakukan percobaan pertama mereka mendekati wanita asing di pusat perbelanjaan ramai. Mereka adalah bagian dari program latihan kencan yang dipandu oleh Hao, seorang pelatih kencan ternama yang telah membantu lebih dari 3.000 klien. Semua peserta berasal dari latar belakang desa miskin, merepresentasikan generasi yang tumbuh setelah era 1990-an, saat banyak orang tua harus meninggalkan anak-anak mereka untuk bekerja di kota-kota besar.
Fokus Hao tidak hanya pada teknik kencan, tetapi juga transformasi fisik dan mental para kliennya. Mulai dari penataan rambut hingga pembentukan citra online, ia menggunakan metode kontroversial yang kadang membuat kliennya merasa tidak nyaman. Misalnya, Zhou merasa bersalah karena citra dirinya yang dibesar-besarkan secara digital. Namun, meskipun ada kecanggungan awal, latihan tatap muka membantu mereka menemukan sedikit rasa percaya diri yang selama ini tertutupi oleh tekanan sosial.
Budaya Tiongkok yang masih sangat menghargai peran laki-laki sebagai pencari nafkah utama menjadi tambahan beban bagi para lajang. Dr Zheng Mu dari Universitas Nasional Singapura menjelaskan bahwa ketidakmampuan untuk memenuhi ekspektasi sosial dapat menyebabkan stigma dan tekanan mental yang berat. Zhou, dengan penghasilan bulanan hanya sekitar Rp9 juta, merasa putus asa karena biaya kencan yang mahal, termasuk layanan perantara jodoh dan perlengkapan baru.
Violet Du Feng, sang sineas yang tinggal di Amerika Serikat, menyoroti realitas ini dalam filmnya. Ia berharap kisah ini dapat membangun dialog lintas budaya tentang pentingnya otentisitas dalam hubungan manusia, meskipun di tengah kompleksitas dunia digital modern.
Dalam usaha mereka yang penuh perjuangan, Li, Wu, dan Zhou mewakili ribuan pria lain yang mencari jalan keluar dari jeratan sosial. Bagi mereka, cinta bukan hanya soal emosi, tetapi juga pertempuran untuk diterima dan dihargai.
Di balik kisah ini, kita diajak untuk merenung tentang kontradiksi antara aspirasi individu dan harapan kolektif dalam masyarakat modern. Dunia digital memang memberikan kesempatan baru, namun juga menambah kerumitan dalam pencarian identitas asli. Inspirasi dari perjuangan Li, Wu, dan Zhou adalah pentingnya kesadaran akan nilai-nilai asli dan pengertian terhadap tantangan orang lain dalam perjalanan menuju cinta dan kebahagiaan.
