
Inovasi Tanpa Henti: Polytron Memimpin Pasar Elektronik Dunia
Dari Kudus ke Panggung Dunia: Perjalanan Awal Polytron
Berawal dari kota Kudus, Jawa Tengah, pada 16 Mei 1975, merek yang kini mendunia ini awalnya dikenal sebagai PT Indonesian Electronic & Engineering. Seiring waktu, identitas perusahaan berevolusi menjadi PT Hartono Istana Electronic pada 18 September 1976, sebelum akhirnya menyatu menjadi PT Hartono Istana Teknologi. Dengan modal awal 50 miliar Rupiah, perusahaan ini menjalin kolaborasi strategis dengan raksasa seperti Philips dan Salora untuk mengakuisisi keahlian teknologi mutakhir.
Diversifikasi Produk: Melangkah Lebih Jauh dari Televisi Hitam Putih
Produk perdana yang diluncurkan Polytron pada tahun 1979 adalah televisi hitam putih, yang hingga kini tetap menjadi salah satu lini produk andalannya. Tak berhenti di situ, pada tahun 1984, perusahaan memperkenalkan audio compo, menandai awal diversifikasi produk. Pada tahun 1988, untuk memperluas jangkauan pasar, Polytron memperkenalkan merek baru seperti Digitec dan Oke, masing-masing diposisikan untuk segmen elektronik digital mewah dari Jepang dan Amerika Serikat.
Ekspansi dan Dominasi: Menjadi Produsen Peralatan Rumah Tangga Terkemuka
Memasuki era milenium, Polytron memilih untuk mengonsolidasikan semua produk di bawah satu merek tunggal: Polytron. Langkah ini diikuti dengan ekspansi besar-besaran dalam lini produk. Kini, Polytron tidak hanya dikenal dengan televisi dan audio, tetapi juga memproduksi beragam peralatan rumah tangga seperti kulkas (sejak akhir 2000), mesin cuci (sejak 2010), AC (sejak awal 2000), hingga ponsel pintar (sejak 2011), serta banyak lagi.
Jejak Kaki Polytron: Infrastruktur Produksi dan R&D yang Luas
Kekuatan operasional Polytron didukung oleh dua fasilitas produksi utama: satu di Kudus seluas 70.000 m2 dan satu lagi di Sayung, Demak, dengan luas 130.000 m2, yang merupakan pabrik kulkas terbesar di Jawa Tengah. Dengan lebih dari 10.000 karyawan, 11 kantor perwakilan, 5 dealer resmi, dan 50 pusat layanan yang tersebar di seluruh Indonesia, Polytron memiliki jaringan yang sangat luas. Perusahaan juga sangat berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan (R&D), dengan tim beranggotakan 500 ahli yang berdedikasi untuk terus berinovasi dan merespons dinamika pasar teknologi.
Di Balik Sukses Polytron: Sosok Hartono Bersaudara
Kisah sukses Polytron tak dapat dipisahkan dari peran sentral Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono, pemilik Grup Djarum yang juga dikenal sebagai salah satu individu terkaya di Indonesia. Meskipun memiliki kekayaan yang luar biasa, Bambang Hartono tetap dikenal karena kesederhanaan dan kecintaannya pada kuliner tradisional. Ia kerap menikmati hidangan kaki lima, seperti lentog pedas dan sate kambing, menunjukkan sisi pribadi yang bersahaja di balik citra konglomerat.
Keseimbangan Hidup: Antara Bisnis dan Kenikmatan Sederhana
Bambang Hartono, meskipun sering disorot publik setelah perannya di Asian Games 2018, tetap merindukan momen-momen tenang untuk menikmati kuliner favoritnya. Ia mengungkapkan sedikit kesedihan karena kesulitan menikmati makanan di tempat umum tanpa dikenali. Namun, hal ini tidak mengurangi semangatnya, bahkan ia sempat bercanda tentang menyamar agar bisa menikmati hidangan kesukaannya dengan lebih tenang, mencerminkan kerendahan hati dan keinginan untuk menjalani hidup normal di tengah sorotan dunia bisnis.
