Kiat Terapis Mengelola Konflik dalam Hubungan Asmara

Setiap hubungan pasti menghadapi perselisihan, dan bagaimana kita menanggapi perbedaan pendapat tersebut akan membentuk masa depan jalinan kasih. Seringkali, ledakan emosi saat bertengkar hanya memperburuk situasi dan melukai perasaan. Karena itu, sangat penting untuk menahan diri, walau hanya sebentar, sebelum melontarkan kata-kata yang mungkin akan disesali.

Kiat Terapis untuk Komunikasi yang Harmonis dalam Hubungan

Dalam sebuah wawancara dengan TODAY, Sinead Smyth, seorang terapis pasangan tersertifikasi dari Gottman Institute, membagikan sebuah kebiasaan sederhana namun sangat berpengaruh yang ia terapkan dalam kehidupan pernikahannya. Smyth menekankan betapa krusialnya menahan diri sejenak sebelum memberikan respons saat terlibat argumen dengan pasangan.

Terapis tersebut menyarankan agar seseorang mengambil jeda beberapa detik sebelum berbicara, terutama di tengah situasi konflik yang memanas. Menurutnya, apa pun yang diucapkan ketika emosi sedang tinggi cenderung tidak akan terdengar baik atau membangun. Ia pribadi telah membiasakan diri untuk berhenti sejenak, sekitar tiga detik, sebelum merespons. Tujuannya adalah untuk mempertimbangkan apakah perkataan tersebut perlu disampaikan dan bagaimana cara menyampaikannya agar lebih konstruktif.

Kebiasaan ini memiliki dasar yang kuat. Smyth menjelaskan bahwa dalam hubungan jangka panjang, banyak perselisihan tidak benar-benar terselesaikan secara tuntas, melainkan lebih kepada bagaimana pasangan belajar menerima perbedaan satu sama lain. Oleh karena itu, daripada terus-menerus berdebat tentang siapa yang benar atau salah, akan lebih baik untuk memfokuskan energi pada cara menyampaikan pendapat tanpa menyakiti perasaan pasangan.

Dukungan terhadap pandangan ini juga datang dari hasil penelitian. Ada korelasi yang kuat antara sikap saling merendahkan atau kritik yang berlebihan dengan peningkatan risiko perceraian. Hal ini dikenal oleh John dan Julie Gottman sebagai bagian dari "empat penunggang kuda" dalam konflik rumah tangga: kritik, sikap defensif, penghinaan, dan penarikan diri.

Sebagai langkah awal, Smyth merekomendasikan agar siapa pun yang sedang terlibat dalam pertengkaran mencoba memberi jeda, bahkan jika hanya untuk beberapa detik. Selain itu, jika memungkinkan, cobalah untuk mengalihkan respons dari kritik yang merusak menjadi komentar yang lebih positif dan membangun. Tujuannya bukan untuk mengabaikan permasalahan yang ada, melainkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih tenang dan terbuka dalam komunikasi.

Dari sudut pandang seorang pengamat, pendekatan ini menunjukkan bahwa hubungan yang sehat dan langgeng dibangun di atas dasar saling pengertian dan komitmen untuk berkembang bersama, bukan sekadar mencari siapa yang paling benar. Ini adalah pelajaran berharga bagi setiap pasangan yang ingin memperkuat ikatan mereka.