



Studi terbaru yang dilakukan oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) menyoroti adanya disparitas yang mencolok dalam struktur simpanan masyarakat di Indonesia. Data yang terkumpul menunjukkan bahwa kelompok masyarakat dengan rekening berkapasitas kecil, yang mayoritas di antaranya memiliki saldo di bawah Rp 100 juta dan mencakup sebagian besar populasi pemegang rekening, menghadapi kenyataan pahit berupa penyusutan nilai tabungan secara signifikan. Ironisnya, pada saat yang sama, golongan masyarakat yang memiliki rekening dengan saldo fantastis di atas Rp 5 miliar justru mengalami pertumbuhan aset yang konsisten dan positif.
Kesenjangan ini menjadi indikator kuat bahwa kondisi keuangan rumah tangga di Indonesia tidak merata. Saldo rata-rata pada rekening dengan nilai kurang dari Rp 100 juta, yang merepresentasikan 98,2% dari total rekening, telah mengalami penurunan drastis. Tercatat, dari angka Rp 4,29 juta pada tahun 2012, jumlah tersebut anjlok menjadi Rp 1,78 juta pada tahun 2025. Penurunan kumulatif mencapai 58,5% atau setara dengan laju penurunan tahunan rata-rata (CAGR) sebesar 6,55%. Kondisi ini mengindikasikan adanya beban berat yang harus ditanggung oleh rumah tangga menengah ke bawah dalam mempertahankan tingkat konsumsi mereka.
Hasil analisis LPEM UI juga selaras dengan data yang dirilis oleh Bank Indonesia terkait penggunaan pendapatan. Data tersebut memperlihatkan peningkatan proporsi pengeluaran untuk konsumsi dan penurunan alokasi untuk tabungan. Artinya, masyarakat tidak hanya mengurangi jumlah uang yang mereka simpan, tetapi juga menarik dana simpanan yang sudah ada demi menopang kebutuhan pengeluaran mereka. Hal ini menciptakan kerentanan finansial yang lebih besar bagi segmen masyarakat ini, membuat mereka lebih mudah terguncang oleh perubahan ekonomi.
Di sisi lain, gambaran yang kontras terlihat pada rekening dengan saldo melebihi Rp 5 miliar. Kelompok ini justru mencatatkan kenaikan saldo rata-rata yang stabil, dengan pertumbuhan lebih dari 4% per tahun. Nilai simpanan pada rekening-rekening jumbo ini terus merangkak naik, dari Rp 23,6 miliar pada tahun 2015 menjadi Rp 29,5 miliar pada tahun 2025. Perbedaan pola ini menggarisbawahi realitas bahwa pertumbuhan akses keuangan belum tentu berbanding lurus dengan peningkatan ketahanan finansial secara merata di seluruh lapisan masyarakat.
Implikasi dari fenomena ini cukup mengkhawatirkan. Dengan menipisnya cadangan tabungan, banyak rumah tangga menjadi lebih rentan terhadap potensi gejolak ekonomi di masa depan. Kenaikan konsumsi yang terlihat belakangan ini, yang mungkin didorong oleh penarikan dana tabungan, berpotensi tidak berkelanjutan. Situasi ini menuntut perhatian serius dari para pembuat kebijakan untuk mencari solusi yang dapat memperkuat stabilitas keuangan bagi seluruh masyarakat, tidak hanya bagi segelintir kelompok beruntung.
