
Penelitian terbaru dari Henley Passport Index untuk Juli 2025 menunjukkan bahwa Singapura sekali lagi memegang posisi teratas dalam daftar paspor paling berpengaruh secara global. Sistem pemeringkatan ini menilai seberapa banyak destinasi yang bisa diakses oleh pemegang paspor tanpa persyaratan visa sebelumnya, berdasarkan data dari Asosiasi Transportasi Udara Internasional. Henley Passport Index mencakup 199 jenis paspor dan 227 tujuan perjalanan, menjadikannya standar rujukan penting bagi individu dan pemerintah dalam memahami tingkat mobilitas di seluruh dunia.
Ketika menganalisis negara-negara di kawasan ASEAN, perbedaan kekuatan paspor menjadi sangat jelas. Pemegang paspor Singapura dapat menikmati kemudahan perjalanan ke 193 negara tanpa visa, menegaskan dominasinya. Di sisi lain, Indonesia menempati peringkat ke-66, dengan warganya hanya dapat mengunjungi 74 negara tanpa visa. Sementara itu, negara tetangga seperti Malaysia berada di posisi yang jauh lebih tinggi, yakni peringkat ke-11, yang memungkinkan akses bebas visa ke 181 negara. Perbandingan ini menyoroti kesenjangan signifikan dalam kebebasan bepergian di antara negara-negara anggota ASEAN.
Daftar lengkap peringkat paspor negara-negara ASEAN menunjukkan bahwa meskipun beberapa negara memiliki akses global yang luas, mayoritas masih menghadapi batasan dalam mobilitas tanpa visa. Brunei Darussalam menduduki peringkat ke-19, diikuti oleh Timor Leste di peringkat 51, Thailand di peringkat 62, Filipina di peringkat 72, Kamboja di peringkat 83, Vietnam di peringkat 84, dan Myanmar di peringkat 88. Data ini mencerminkan dinamika hubungan internasional dan kesepakatan bilateral yang memengaruhi kebebasan bepergian bagi warga setiap negara, sekaligus mendorong peningkatan kualitas paspor dan kemudahan perjalanan sebagai aspek penting dalam diplomasi global dan pengembangan ekonomi.
Peringkat paspor ini bukan sekadar angka; ia mencerminkan tingkat konektivitas global, kekuatan diplomatik, dan kesempatan ekonomi yang tersedia bagi warga suatu negara. Semakin kuat sebuah paspor, semakin besar pula kemudahan untuk berinteraksi dengan dunia, baik untuk tujuan bisnis, pendidikan, maupun rekreasi. Hal ini menginspirasi setiap negara untuk terus berupaya meningkatkan hubungan bilateral dan multilateral, demi membuka lebih banyak pintu bagi rakyatnya. Upaya kolektif untuk memajukan mobilitas global akan berkontribusi pada pemahaman lintas budaya, pertumbuhan ekonomi, dan persahabatan antar bangsa yang lebih erat, menciptakan dunia yang lebih terhubung dan harmonis.
