
K.H. As'ad Humam, seorang cendekiawan Muslim dari Yogyakarta, Indonesia, telah memberikan kontribusi besar dalam literasi Al-Qur'an melalui metode pengajaran revolusionernya yang dikenal sebagai \"Iqro'\". Buku ini memungkinkan jutaan Muslim di seluruh dunia, terutama di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya, untuk dengan cepat menguasai aksara Arab dan membaca kitab suci. Kisah hidupnya, ditandai dengan semangat pantang menyerah meskipun menghadapi keterbatasan fisik, adalah inspirasi yang menegaskan kekuatan pendidikan dan dedikasi terhadap komunitas.
Metode \"Iqro'\" yang diciptakan oleh K.H. As'ad Humam, telah mengubah cara jutaan orang Muslim belajar membaca Al-Qur'an. Berbeda dengan metode konvensional yang memerlukan waktu bertahun-tahun, Iqro' memungkinkan pembelajaran membaca Al-Qur'an hanya dalam hitungan bulan. Inovasi ini, yang diajarkan secara luas sejak 1983, berfokus pada pengenalan kata per kata, berawal dari yang paling sederhana hingga kalimat yang lebih kompleks, menjadikannya sangat mudah dipahami, terutama bagi anak-anak.
As'ad Humam, lahir di Yogyakarta pada tahun 1933 dalam keluarga Muhammadiyah, menghadapi tantangan besar dalam hidupnya. Sebuah kecelakaan saat remaja menyebabkan cacat permanen pada tulang belakangnya, memaksanya berhenti sekolah dan beralih fokus menjadi guru mengaji. Namun, justru dari keterbatasan fisik inilah lahir sebuah metode pengajaran yang brilian. Ia dikenal karena kemampuannya mengajarkan membaca Al-Qur'an dengan cepat kepada murid-muridnya.
Metode Iqro' pertama kali diuji coba di kalangan anak-anak yang bernaung di bawah Tim Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Musholla (AMM) Yogyakarta. Keberhasilan metode ini dalam mempercepat kemampuan membaca Al-Qur'an menarik perhatian pemerintah, yang kemudian menyebarluaskannya ke seluruh Indonesia. Popularitas Iqro' tidak hanya terbatas di dalam negeri, tetapi juga merambah ke negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam, yang juga mengadopsi metode ini dalam kurikulum pendidikan agama mereka.
Pendapatan dari penjualan buku Iqro' tidak digunakan untuk memperkaya As'ad Humam secara pribadi. Sebaliknya, seluruh keuntungan disalurkan untuk kepentingan umat, seperti pembangunan pusat-pusat pengajian dan fasilitas keagamaan lainnya. Dedikasinya yang luar biasa untuk kemaslahatan masyarakat membuat Menteri Agama Tarmizi Taher, saat mengantar As'ad Humam ke peristirahatan terakhirnya pada Februari 1996, menjulukinya sebagai \"Pahlawan Penyelamat Al-Qur'an\". Gelar ini sangat pantas, mengingat dampak luar biasa yang dihasilkan metode Iqro' dalam memberantas buta aksara Al-Qur'an hingga hari ini.
Warisan K.H. As'ad Humam dan metode Iqro'nya terus hidup dan menjadi fondasi utama dalam pendidikan Al-Qur'an. Ini adalah bukti nyata bahwa inovasi yang didasari ketulusan dan dedikasi mampu menciptakan perubahan positif yang berdampak luas dan abadi bagi generasi mendatang.
