
Situasi pasar modal Indonesia akhir pekan lalu diwarnai oleh gejolak yang cukup mencolok. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat, tergelincir dari level tertinggi sepanjang sejarah yang baru saja diraih. Penurunan ini dipicu oleh sentimen negatif yang beredar di pasar, menyebabkan indeks merosot tajam. Pada penutupan perdagangan, IHSG melemah sebesar 1,53% atau turun 121 poin, berakhir pada level 7.830,49. Kapitalisasi pasar secara keseluruhan juga terkoreksi signifikan, mencapai Rp 14.211 triliun, sebuah penurunan yang substansial dibandingkan hari sebelumnya.
Di tengah kondisi pasar yang melemah dan aksi jual bersih oleh investor asing, beberapa saham justru menjadi incaran utama. Meskipun investor asing secara umum mencatatkan penjualan bersih senilai Rp 1,12 triliun, terutama di pasar reguler dan negosiasi, terdapat daftar sepuluh saham yang menarik minat pembelian bersih. Ini menunjukkan strategi selektif dari investor asing yang melihat peluang di tengah koreksi pasar. Saham-saham seperti Aneka Tambang (ANTM), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Astra International (ASII) memimpin daftar pembelian bersih, menandakan kepercayaan terhadap prospek jangka panjang emiten-emiten tersebut.
Daftar saham yang berhasil menarik perhatian investor asing meliputi Aneka Tambang (ANTM) dengan pembelian bersih senilai Rp 164,18 miliar, diikuti oleh Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sebesar Rp 154,52 miliar, dan Astra International (ASII) senilai Rp 114,48 miliar. Selain itu, J Resources Asia Pasifik (PSAB), Barito Renewables Energy (BREN), Bank Negara Indonesia (BBNI), Barito Pacific (BRPT), Elang Mahkota Teknologi (EMTK), Perusahaan Gas Negara (PGAS), dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) juga masuk dalam daftar sepuluh besar saham dengan pembelian bersih terbesar. Keberanian investor asing untuk mengakumulasi saham-saham ini di tengah tekanan pasar mencerminkan keyakinan akan potensi pemulihan dan fundamental yang kuat dari emiten-emiten tersebut.
Kondisi ini mengajarkan kita tentang dinamika pasar modal yang kompleks, di mana peluang investasi dapat muncul bahkan di tengah ketidakpastian. Keputusan investor asing untuk tetap mengakumulasi saham-saham unggulan saat pasar terkoreksi adalah bukti dari visi jangka panjang dan kemampuan untuk melihat nilai di balik fluktuasi sementara. Ini mengingatkan kita bahwa setiap tantangan selalu mengandung potensi baru, dan dengan analisis yang cermat serta keyakinan yang kuat, individu dapat menemukan jalan menuju keberhasilan.
