
Pada permulaan pekan perdagangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kemerosotan signifikan, menandai hari yang sulit bagi pasar domestik. Walaupun sentimen jual mendominasi di kalangan investor asing secara keseluruhan, terlihat adanya aktivitas pembelian strategis terhadap beberapa emiten terkemuka. Fenomena ini mengindikasikan bahwa di tengah tekanan pasar, investor internasional masih jeli melihat peluang investasi pada saham-saham yang dianggap prospektif, bahkan ketika indeks utama sedang terkoreksi. Langkah ini secara tidak langsung turut berkontribusi dalam menahan penurunan IHSG agar tidak semakin dalam.
Senin (4/8/2025) menjadi hari yang menantang bagi IHSG, di mana indeks tersebut mengakhiri sesi perdagangan dengan koreksi sebesar 0,97%, ditutup pada level 7.464,65. Total nilai transaksi mencapai Rp 15,91 triliun, melibatkan perputaran 29,69 miliar saham melalui 2,04 juta kali transaksi. Data menunjukkan bahwa sebanyak 325 saham mengalami kenaikan, sementara 317 saham menunjukkan penurunan, dan 162 saham tidak mengalami perubahan harga yang signifikan. Di balik angka-angka ini, investor asing mencatatkan penjualan bersih yang besar di seluruh pasar, dengan total Rp 1,02 triliun, terbagi menjadi Rp 939,44 miliar di pasar reguler dan Rp 77,87 miliar di pasar negosiasi dan tunai.
Meskipun ada tekanan jual masif dari investor asing, terdapat sepuluh saham yang justru menjadi target akumulasi. Daftar saham yang diborong oleh investor asing mencakup PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) dengan nilai Rp 77,96 miliar, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) sebesar Rp 47,72 miliar, dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) senilai Rp 30,75 miliar. Selanjutnya, PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) mencatat pembelian sebesar Rp 27,01 miliar, disusul oleh PT United Tractors Tbk. (UNTR) dengan Rp 26,19 miliar. Saham-saham lain yang juga menarik minat investor asing adalah PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) sebesar Rp 25,06 miliar, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dengan Rp 23,75 miliar, dan PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) sebesar Rp 14,60 miliar. Dua saham terakhir dalam daftar ini adalah PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) dengan Rp 14,17 miliar dan PT MD Entertainment Tbk. (FILM) senilai Rp 13,37 miliar. Pembelian yang terfokus pada saham-saham ini membantu menjaga stabilitas pasar di tengah sentimen negatif yang melanda indeks secara keseluruhan.
Pergerakan investor asing ini menegaskan dinamika kompleks di pasar modal Indonesia, di mana koreksi indeks tidak selalu mencerminkan peluang yang sama untuk semua aset. Justru, kondisi ini bisa menjadi kesempatan bagi investor dengan pandangan jangka panjang untuk mengakumulasi saham-saham berkualitas dengan harga yang lebih menarik. Pola ini sering terlihat di pasar yang bergejolak, di mana investor cerdas memanfaatkan penurunan untuk membangun posisi pada aset-aset fundamental kuat. Dengan demikian, meskipun IHSG mengalami kemunduran, adanya aktivitas pembelian selektif oleh investor asing mengindikasikan kepercayaan terhadap potensi pertumbuhan jangka panjang beberapa perusahaan di Indonesia.
