
Setelah berhasil mencatat sejarah dengan penerbitan perdana 'Kangaroo Bond' di pasar Australia pada 7 Agustus 2025, pemerintah Indonesia kini mengarahkan perhatiannya pada instrumen keuangan berikutnya: 'Dim Sum Bond'. Obligasi berdenominasi renminbi ini dijadwalkan menjadi prioritas selanjutnya dalam upaya diversifikasi sumber pembiayaan negara. Plt. Direktur Surat Utang Negara dari DJPPR Kementerian Keuangan menegaskan bahwa langkah ini merupakan strategi untuk menjangkau pasar investor yang lebih luas di Asia, sekaligus memperkuat ketahanan portofolio pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di masa mendatang.
Meskipun tanggal pasti penerbitan 'Dim Sum Bond' belum diumumkan secara rinci, pemerintah menekankan bahwa keputusan tersebut akan sangat bergantung pada kondisi pasar obligasi global dan kebutuhan pembiayaan APBN yang dinamis. Pendekatan yang hati-hati, fleksibel, dan terukur tetap menjadi pedoman utama dalam menentukan waktu, jenis instrumen, serta komposisi mata uang yang paling optimal. Keberhasilan 'Kangaroo Bond' sebelumnya menjadi bukti nyata kepercayaan pasar internasional terhadap fundamental ekonomi Indonesia, dengan permintaan investor mencapai delapan miliar dolar Australia, sepuluh kali lipat dari nilai setelmen sebesar 800 juta dolar Australia, dan tingkat imbal hasil yang kompetitif.
Langkah progresif pemerintah dalam menerbitkan berbagai jenis obligasi di pasar internasional menunjukkan komitmen kuat untuk mengelola keuangan negara dengan cermat dan berinovasi. Ini bukan hanya sekadar diversifikasi sumber dana, tetapi juga cerminan adaptasi terhadap perubahan lanskap ekonomi global. Melalui kebijakan ini, pemerintah berupaya menciptakan fondasi keuangan yang lebih stabil dan berkelanjutan, memastikan bahwa setiap keputusan didasarkan pada pertimbangan yang matang demi kesejahteraan seluruh masyarakat.
