IHSG Terpangkas: Analisis Penurunan dan Prospek Pemulihan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan ketahanan di akhir sesi pertama perdagangan hari ini, Senin (1/9/2025), berhasil memangkas koreksi yang sempat mencapai lebih dari 3% di awal perdagangan. Meskipun demikian, IHSG tetap ditutup melemah sebesar 0,76% atau 59,51 poin, bertengger di level 7.770,98. Pelemahan ini mencerminkan dinamika pasar yang kompleks, di mana 567 saham mengalami penurunan, 172 saham menguat, dan 217 saham lainnya tidak bergerak. Aktivitas perdagangan terpantau aktif dengan nilai transaksi mencapai Rp 14,65 triliun, melibatkan perpindahan 23,54 miliar saham dalam 1,51 juta kali transaksi. Sektor-sektor yang menopang pasar antara lain kesehatan, properti, dan bahan baku, sementara sektor teknologi dan finansial menjadi penekan utama.

Pergerakan IHSG pada sesi ini sangat dipengaruhi oleh sentimen negatif dari gejolak domestik yang sedang terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Meskipun demikian, para pemangku kepentingan pasar modal, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), berupaya keras untuk menenangkan investor dan menjaga stabilitas pasar. Mereka menekankan pentingnya berinvestasi berdasarkan fakta dan fundamental ekonomi yang solid, bukan sekadar rumor yang beredar di pasar.

OJK, melalui Anggota Dewan Komisioner Inarno Djajadi, mengimbau para investor untuk senantiasa bijak dalam mengambil keputusan investasi. Ia menegaskan bahwa keyakinan terhadap prospek kemajuan ekonomi Indonesia tetap tinggi. Lebih lanjut, OJK juga menyatakan komitmennya untuk mempertahankan kebijakan pembelian kembali saham (buyback) tanpa perlu Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), sebuah kebijakan yang terbukti efektif menstabilkan pasar di masa-masa sulit sebelumnya.

Senada dengan OJK, Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menjelaskan bahwa pergerakan pasar saham tidak hanya ditentukan oleh fundamental, tetapi juga oleh persepsi investor. Ia mengakui bahwa saat ini pasar tengah diselimuti sentimen negatif akibat persepsi, namun menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia sejatinya berada dalam kondisi yang baik dan terus menunjukkan perbaikan. Komentar ini memberikan pandangan yang lebih optimis terhadap kondisi pasar di tengah gejolak yang ada.

Sebagai informasi tambahan, Morgan Stanley Capital International (MSCI) telah merilis hasil tinjauan berkala indeksnya untuk edisi Agustus 2025. Dalam MSCI Global Standard Indexes List, terdapat dua emiten baru yang masuk dan satu emiten yang keluar, sementara pada MSCI Small Cap Indexes, enam emiten berhasil masuk dan dua emiten harus keluar. Perubahan ini menunjukkan dinamika dan pergeseran dalam komposisi indeks yang dapat memengaruhi keputusan investasi.

Sejarah pasar saham Indonesia mencatat beberapa kali IHSG menghadapi periode kritis. Misalnya, pada 8 Januari 1998, IHSG anjlok 11,95% dalam sehari akibat krisis nilai tukar rupiah. Kemudian pada 8 Oktober 2008, indeks turun 10,37% dihantam krisis keuangan global. Terkini, pada 8 April 2025, IHSG sempat merosot 7,9% sebagai respons terhadap kebijakan tarif impor yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump. Namun, di setiap krisis tersebut, IHSG selalu menunjukkan kemampuan untuk bangkit dan pulih.

Meskipun pasar saham Indonesia tengah diuji oleh berbagai sentimen negatif, baik dari kerusuhan domestik maupun sentimen global, upaya kolaboratif dari OJK dan BEI untuk menjaga kepercayaan investor dan menerapkan kebijakan stabilisasi pasar sangat krusial. Keyakinan pada fundamental ekonomi yang kuat serta pengalaman masa lalu di mana IHSG selalu berhasil bangkit dari tekanan, menjadi harapan utama bagi pasar untuk kembali menemukan pijakannya dan melanjutkan tren positif di masa mendatang.