IHSG Melonjak, Saham Perbankan Jadi Incaran Investor Asing

Pada hari Selasa, tanggal 12 Agustus 2025, pasar saham Indonesia menunjukkan performa yang mengesankan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka dengan lonjakan 0,79%, menempatkannya pada posisi 7.666,09. Pergerakan positif ini didominasi oleh minat beli yang tinggi pada sektor perbankan, yang menjadi primadona di kalangan investor, termasuk mereka yang berasal dari luar negeri. Kembalinya aliran modal asing ke pasar domestik menjadi sinyal positif yang mendorong optimisme.

Sesi pembukaan perdagangan diwarnai oleh aksi beli yang masif, terutama pada saham-saham perbankan raksasa. Tiga bank terbesar, yakni BBRI, BBCA, dan BMRI, menjadi target utama investor. BBRI mencatatkan nilai transaksi tertinggi dengan Rp 70,7 miliar, disusul oleh BBCA dengan Rp 61,8 miliar, dan BMRI dengan Rp 39,6 miliar. Minat investor asing terhadap saham-saham ini sangat terlihat, dengan BBCA memimpin daftar beli bersih asing sebesar Rp 425,1 miliar, diikuti oleh BBRI Rp 234,6 miliar, dan FILM Rp 117,2 miliar. Ini menandai perubahan tren setelah pasar sebelumnya mengalami penjualan bersih yang berkelanjutan oleh investor asing.

Pergerakan positif di pasar domestik juga tidak terlepas dari sentimen global. Investor saat ini menantikan dua peristiwa penting yang dapat mempengaruhi arah kebijakan moneter dan perdagangan internasional. Pertama adalah rilis data inflasi Amerika Serikat untuk periode Juli 2025, yang akan memberikan petunjuk mengenai keputusan Federal Reserve terkait suku bunga. Kedua adalah batas waktu gencatan tarif impor antara Amerika Serikat dan China, yang diharapkan dapat diperpanjang, membawa harapan akan kebijakan perdagangan yang lebih fleksibel antara kedua kekuatan ekonomi tersebut. Dari sisi domestik, data penjualan ritel yang baru dirilis juga menambah keyakinan pasar.

Di kawasan Asia-Pasifik, pasar saham juga menunjukkan kinerja yang cerah. Indeks Nikkei 225 Jepang mencatat rekor tertinggi sepanjang masa di 42.629,17, didorong oleh sektor energi, teknologi, keuangan, dan utilitas. Indeks Topix yang lebih luas juga menguat. Sementara itu, di Korea Selatan, indeks Kospi dan Kosdaq keduanya bergerak naik. Di Australia, indeks acuan S&P/ASX 200 stagnan. Reaksi positif pasar Asia ini sebagian besar disebabkan oleh keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memperpanjang gencatan senjata perdagangan dengan China hingga pertengahan November, memberikan ruang bagi deeskalasi ketegangan dagang.

Kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, didorong oleh aktivitas beli yang kuat pada saham-saham perbankan, terutama dari investor asing, menunjukkan pemulihan kepercayaan pasar. Perkembangan ekonomi makro global dan kebijakan perdagangan antara AS-China akan terus menjadi faktor kunci yang mempengaruhi pergerakan pasar ke depan.