













Acara akbar, Festival Keuangan LPS 2025, telah sukses terselenggara di Regale International Convention Center, Medan, Sumatera Utara. Festival ini menjadi wadah penting untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang isu-isu keuangan, dengan fokus pada strategi penguatan ekonomi lokal. Kehadiran para narasumber terkemuka, seperti Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa, Founder dan Chairman CT Corp Chairul Tanjung, serta Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution, menambah bobot dan daya tarik acara ini. Diskusi panel yang interaktif dan beragam topik yang disajikan, mulai dari pentingnya menabung dan berinvestasi hingga upaya mengatasi hambatan permodalan bagi UMKM, menjadikan festival ini sangat relevan dan bermanfaat bagi berbagai kalangan, khususnya generasi muda dan pelaku usaha.
Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti peran krusial daerah dalam membangun ketahanan ekonomi nasional, menekankan bahwa denyut nadi ekonomi Indonesia berawal dari aktivitas di tingkat lokal. Beliau juga mengungkapkan kebanggaannya atas antusiasme peserta, terutama pelajar dan mahasiswa, yang secara aktif mengajukan pertanyaan kritis tentang pengelolaan keuangan. Sementara itu, Chairul Tanjung berbagi pandangan inspiratif tentang meraih kesuksesan, mengibaratkan uang seperti air yang mengalir ke tempat rendah namun akhirnya kembali dengan hasil yang melimpah. Dari sisi pemerintahan daerah, Bobby Nasution menegaskan bahwa akses modal masih menjadi kendala utama bagi banyak pengusaha lokal, meskipun mereka telah menunjukkan ketahanan. Oleh karena itu, Pemprov Sumut berkomitmen untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak guna menghilangkan hambatan permodalan ini.
Dalam sesi panel kedua, para bankir terkemuka seperti Didik Mardiyono dari LPS, Aquarius Rudianto dari BRI, Timothy Utama dari Bank Mandiri, dan Anton Sukarna dari Bank Syariah Indonesia, membahas isu-isu krusial seperti mitigasi risiko perbankan dan keamanan transaksi digital. Didik Mardiyono menjelaskan bagaimana LPS mengambil keputusan dalam menghadapi bank gagal, selalu mempertimbangkan opsi yang paling efisien. Timothy Utama dan Aquarius Rudianto secara serentak mengingatkan masyarakat akan maraknya kejahatan digital dan perlunya kehati-hatian dalam berbagi data pribadi, namun tetap menekankan bahwa digitalisasi adalah keniscayaan yang harus dimanfaatkan untuk efisiensi layanan perbankan. Terakhir, Anton Sukarna memberikan tips praktis untuk menjaga keamanan rekening bank, termasuk membagi keuangan dan berinvestasi pada produk yang aman. Secara keseluruhan, Festival Keuangan LPS 2025 berhasil menyajikan informasi yang padat dan bermanfaat, memberdayakan masyarakat dengan pengetahuan yang diperlukan untuk mengelola keuangan mereka secara bijak.
Acara semacam ini, yang mengedukasi masyarakat tentang pentingnya literasi keuangan dan pengelolaan ekonomi yang berkelanjutan, merupakan inisiatif yang sangat positif. Dengan meningkatkan pemahaman publik mengenai keuangan, kita dapat membangun fondasi ekonomi yang lebih kuat dan resilient. Pengetahuan tentang menabung, berinvestasi, dan mitigasi risiko digital tidak hanya melindungi individu dari kerugian, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi dari tingkat lokal hingga nasional. Oleh karena itu, kegiatan seperti Festival Keuangan LPS harus terus digalakkan, demi mewujudkan masyarakat yang lebih cerdas secara finansial dan mampu berkontribusi aktif dalam pembangunan bangsa yang adil dan makmur.
