
Belakangan ini, jagat maya diramaikan dengan kemunculan berbagai akronim unik yang menggambarkan perilaku pengunjung di pusat perbelanjaan. Istilah-istilah seperti \"Rohana\" dan \"Rojali\" menjadi viral, mencerminkan sebuah tren di mana masyarakat datang ke mal bukan untuk berbelanja, melainkan sekadar berjalan-jalan atau mencari hiburan. Fenomena ini telah menarik perhatian banyak pihak, terutama para pelaku bisnis ritel yang merasakan dampaknya terhadap tingkat penjualan. Perubahan pola interaksi konsumen dengan pusat perbelanjaan ini menyoroti pergeseran kebiasaan sosial dan ekonomi yang patut dicermati.
Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), melalui Ketua Umum Alphonzus Widjaja, mengonfirmasi bahwa fenomena \"Rojali\" atau \"Rombongan Jarang Beli\" semakin marak. Meskipun jumlah kunjungan ke mal menunjukkan peningkatan, hal ini tidak serta-merta diiringi dengan peningkatan transaksi pembelian. Alphonzus menjelaskan bahwa terjadi perubahan mendasar dalam pola konsumsi masyarakat, khususnya segmen menengah ke bawah, yang daya belinya belum sepenuhnya pulih. Mereka cenderung membeli produk dengan harga satuan yang lebih rendah atau sekadar menikmati suasana mal tanpa melakukan pembelian besar. Hal ini menimbulkan tantangan tersendiri bagi pengelola mal dalam menarik minat belanja pengunjung.
Beberapa singkatan yang populer di media sosial, menggambarkan berbagai tipe pengunjung mal yang 'tidak produktif' dari sisi transaksi, antara lain: ROJALI (Rombongan Jarang Beli), ROHANA (Rombongan Hanya Nanya), ROHALUS (Rombongan Hanya Elus-Elus barang), ROHALI (Rombongan Hanya Lihat-lihat), ROCEGA (Rombongan Cek Harga), ROMANSA (Rombongan Manis Senyum Aja), ROTASI (Rombongan Tanpa Transaksi), ROSALI (Rombongan Suka Selfie), ROCADOH (Rombongan Cari Jodoh), ROCUTA (Rombongan Cuci Mata), dan ROMUSA (Rombongan Muka Susah). Akronim-akronim ini menjadi cara yang jenaka namun akurat dalam menggambarkan realitas yang terjadi di pusat-pusat perbelanjaan modern.
Dari sudut pandang ekonomi, David Sumual, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk., menyoroti bahwa konsumsi masyarakat, terutama di kalangan menengah atas, belum menunjukkan perbaikan signifikan. Padahal, segmen menengah atas ini menyumbang sekitar 70% dari total konsumsi nasional, khususnya untuk barang-barang tahan lama seperti kendaraan, furnitur, pakaian, dan barang mewah. Data menunjukkan bahwa hingga Juni lalu, pola konsumsi ini masih belum optimal, yang secara tidak langsung turut memengaruhi kondisi bisnis ritel di pusat perbelanjaan. Kelesuan daya beli di segmen ini menjadi salah satu faktor kunci di balik fenomena \"Rojali\" dan sejenisnya.
Peningkatan kunjungan tanpa disertai peningkatan transaksi menjadi indikasi bahwa pusat perbelanjaan kini beralih fungsi dari sekadar tempat berbelanja menjadi destinasi rekreasi atau sosial. Masyarakat mencari pengalaman di luar transaksi jual beli, seperti suasana nyaman, fasilitas hiburan, atau sekadar tempat berkumpul. Pergeseran ini menuntut strategi baru dari para pengelola mal dan pelaku bisnis ritel untuk beradaptasi, misalnya dengan menawarkan lebih banyak pengalaman interaktif, acara komunitas, atau promosi yang lebih menarik untuk mengonversi kunjungan menjadi pembelian.
Singkatnya, viralnya istilah-istilah seperti \"Rohana\" dan \"Rojali\" menyoroti sebuah realitas baru dalam dinamika pusat perbelanjaan di Indonesia. Meskipun kunjungan ke mal meningkat, perubahan perilaku konsumen, terutama akibat belum pulihnya daya beli, telah mengubah esensi mal dari pusat transaksi menjadi ruang sosial dan rekreasi. Hal ini membutuhkan adaptasi dan inovasi dari sektor ritel agar tetap relevan di tengah perubahan lanskap konsumsi masyarakat.
