
Keintiman merupakan inti dari sebuah hubungan yang sehat dan berkelanjutan. Meskipun sering dianggap remeh, kehilangan keintiman dapat memiliki dampak yang luas, tidak hanya pada kemesraan pasangan, tetapi juga pada aspek lain kehidupan seperti karier, pertemanan, bahkan kesehatan fisik. Seorang pakar hubungan dan terapis seks berpengalaman, Chamin Ajjan, menegaskan pentingnya keintiman dan menyoroti beberapa faktor tak terduga yang dapat menghambat kedekatan antarpasangan.
Detail Laporan Informasi: Hambatan Keintiman dalam Hubungan Asmara
Pada tanggal 14 Juli 2025, melalui laporan yang diterbitkan oleh CNBC Indonesia, terapis seks ternama Chamin Ajjan membeberkan empat hal yang seringkali tanpa disadari dapat merusak keintiman dalam hubungan. Berbekal pengalaman lebih dari dua dekade sebagai terapis seks dan psikoterapis, Ajjan menekankan bahwa keintiman bukanlah sekadar 'pemanis' dalam hubungan, melainkan tulang punggung yang menjaga ikatan tetap hidup, bahkan setelah 'fase bulan madu' berlalu.
Berikut adalah empat aspek yang menurut Ajjan, dapat menjadi penghalang keintiman dan cara mengatasinya:
1. Penggunaan Gawai yang Berlebihan
Di era digital ini, ponsel telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, Ajjan memperingatkan bahwa fokus yang terpecah karena gawai, bahkan hanya dengan melihat notifikasi sekilas, dapat memutus aliran emosi dan menghalangi koneksi mendalam dengan pasangan. Untuk mengatasinya, pasangan disarankan untuk berkomunikasi terbuka mengenai perasaan mereka saat salah satu asyik dengan gawai. Menetapkan 'zona bebas layar' di area tertentu seperti kamar tidur atau selama waktu makan dapat membantu menciptakan momen kebersamaan yang lebih berkualitas.
2. Terjebak dalam Bayangan Mantan
Perbandingan dengan mantan pasangan, baik itu secara mental maupun emosional, adalah racun bagi keintiman baru. Ajjan menjelaskan bahwa keterikatan yang belum tuntas dengan hubungan masa lalu dapat menghambat seseorang untuk sepenuhnya hadir dan terhubung dengan pasangan saat ini. Solusinya adalah refleksi diri yang jujur. Memberi ruang untuk berduka atas apa yang telah hilang dan merenungkan pelajaran dari hubungan sebelumnya adalah langkah awal. Melepaskan kenangan fisik seperti pesan, foto, atau hadiah dari mantan juga dapat membuka jalan bagi keintiman yang lebih dalam dengan pasangan sekarang.
3. Dominasi Pikiran Negatif
Perasaan tidak mampu atau tidak cukup baik bagi pasangan adalah pikiran negatif yang umum, namun sangat merusak. Pikiran-pikiran ini, meskipun terasa nyata, seringkali hanyalah ketakutan belaka. Ajjan menyarankan untuk melatih diri dalam mengidentifikasi pikiran negatif ini. Setiap kali muncul, tanyakan pada diri sendiri: "Apakah ini fakta atau hanya ketakutan?" dan "Apa bukti konkret bahwa ini adalah fakta?" Memahami bahwa perasaan 'benar' tidak selalu berarti 'nyata' dapat membantu mengendalikan pikiran-pikiran yang merusak ini.
4. Cara Merespons Stres
Stres memiliki dampak yang berbeda pada setiap individu dalam konteks keintiman. Beberapa orang mungkin merasa gairah meningkat saat stres, sementara yang lain justru merasa terbebani dan tertutup. Mengacu pada 'model kontrol ganda' dalam terapi seks, Ajjan menjelaskan bahwa setiap orang memiliki 'akselerator' (hal-hal yang membangkitkan gairah) dan 'rem' (hal-hal yang mematikan gairah). Memahami pola respons stres pribadi adalah kunci. Dengan melacak bagaimana stres memengaruhi diri, seseorang dapat berkomunikasi lebih baik dengan pasangan, menjelaskan kebutuhan mereka, dan mencari cara-cara non-seksual untuk tetap merasa dekat, seperti berpelukan atau sekadar berbincang. Keintiman, pada akhirnya, melampaui ranah fisik dan mencakup momen-momen kecil yang mempererat ikatan emosional.
Sebagai seorang jurnalis, saya menemukan bahwa paparan dari terapis seks Chamin Ajjan ini memberikan perspektif yang sangat berharga. Seringkali, kita cenderung berfokus pada masalah-masalah besar dalam hubungan dan mengabaikan 'hal-hal kecil' yang sebenarnya memiliki dampak kumulatif yang signifikan. Pesan utamanya adalah pentingnya kesadaran diri dan komunikasi terbuka. Banyak pasangan mungkin merasa 'tidak ada waktu' untuk mendiskusikan hal-hal ini atau menganggapnya terlalu sepele. Namun, seperti yang ditekankan Ajjan, keintiman adalah fondasi yang rapuh jika tidak dirawat. Mengalokasikan waktu untuk saling memahami dan menanggulangi penghambat-penghambat ini bersama-sama bukanlah sebuah kemewahan, melainkan investasi vital untuk masa depan hubungan yang kuat dan langgeng. Laporan ini juga menginspirasi kita untuk melihat keintiman dalam spektrum yang lebih luas, di luar sekadar aspek fisik, mencakup koneksi emosional dan mental yang dalam.
