
Kehadiran gelombang budaya Korea atau Hallyu di Indonesia telah menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal. Konser musik, fan meeting, dan berbagai pertemuan penggemar tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga sumber pendapatan tambahan bagi pelaku usaha kecil. Mulai dari pedagang aksesori K-pop seperti kipas bergambar idol, photo card, gantungan kunci, hingga jasa penitipan barang di sekitar lokasi konser, semuanya turut merasakan manfaatnya. Selain itu, fenomena ini juga memicu pertumbuhan kursus bahasa Korea, bisnis kuliner ala Korea, serta keterlibatan selebriti Korea sebagai brand ambassador produk lokal.
Di Blok M Jakarta, sebuah toko bernama Fantastic K-pop menjadi destinasi favorit para penggemar K-pop untuk membeli merchandise resmi maupun buatan lokal. Hartaja Sudhana, pemilik toko tersebut, mengatakan bahwa meskipun permintaan sedikit menurun akibat kondisi ekonomi global, dia tetap berusaha mempertahankan usahanya dengan memberikan diskon besar pada produk-produknya. Toko ini menjual berbagai jenis pernak-pernik yang laris saat mendekati penyelenggaraan konser besar, salah satunya saat Blackpink tampil di Jakarta. Banyak reseller datang memborong barang-barang tersebut untuk dijual kembali di sekitar area konser.
Tidak hanya toko fisik, pedagang kaki lima pun turut merasakan limpahan rezeki dari antusiasme penggemar K-pop. Rohan (40 tahun), salah satu pedagang keliling, mengatakan bahwa dirinya mulai menjajakan kipas bertema idol Korea sejak konser Justin Bieber digelar beberapa waktu lalu. Namun, dia menyadari bahwa frekuensi konser K-pop lebih sering, sehingga memberikan penghasilan yang cukup stabil. Produk lain seperti bando lucu, photo card, dan gantungan kunci hasil kerajinan tangan juga banyak ditemukan di sekitar venue konser. Sebagian besar pedagang merupakan pelaku UMKM yang memproduksi sendiri atau memesan dari pengrajin lokal.
Peluang bisnis tidak terbatas pada penjualan fisik saja. Layanan jasa penitipan barang di sekitar lokasi konser menjadi solusi bagi penonton dari luar kota yang membawa koper besar, karena umumnya venue melarang tas berukuran besar masuk. Di ICE BSD Tangerang, misalnya, layanan titip tas atau koper dibanderol seharga Rp30.000 selama acara berlangsung. Para pengguna layanan ini dimasukkan ke dalam grup WhatsApp agar mudah berkoordinasi saat pengambilan barang. Sistem ini terbukti efektif dan aman, tanpa ada laporan kehilangan barang.
Selain itu, muncul pula jasa pembelian tiket konser secara titip, mengingat sistem pembelian online yang kompetitif dan cepat habis. Banyak fanbase menawarkan layanan ini dengan biaya tambahan, menjadikannya sebagai alternatif penghasilan tambahan. Tak ketinggalan, minat belajar bahasa Korea meningkat drastis, mendorong tumbuhnya platform kursus online yang menargetkan penggemar K-drama dan K-pop yang ingin memahami percakapan idol mereka tanpa teks terjemahan.
Geliat budaya Korea di Indonesia terus berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Bukan hanya lewat konser dan fanmeeting, tetapi juga melalui kolaborasi merek-merek lokal dengan artis Korea. Nama-nama besar seperti Park Seo-joon, Jisoo BLACKPINK, dan NewJeans menjadi daya tarik tersendiri sebagai duta merek dalam berbagai kampanye iklan. Fenomena ini menunjukkan bahwa demam Korea bukanlah tren sesaat, melainkan bagian dari gaya hidup yang turut mendorong perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia.
