Bisakah Seseorang yang Sering Selingkuh Berubah? Ini Kata Psikolog

Pandangan umum mengenai orang yang sering berselingkuh cenderung skeptis terhadap kemungkinan perubahan. Anggapan 'sekali selingkuh, akan selalu selingkuh' sudah mengakar kuat. Akan tetapi, para psikolog menawarkan perspektif yang berbeda. Mereka menjelaskan bahwa tindakan perselingkuhan, yang sering kali kompleks, sangat berkaitan dengan kondisi psikologis dan pola pikir seseorang. Oleh karena itu, ada ruang bagi perubahan, asalkan individu tersebut memiliki kemauan kuat dan mendapatkan dukungan yang sesuai.

Perilaku perselingkuhan bukanlah sekadar daya tarik fisik. Psikolog Linda Hatch menyoroti bahwa banyak individu yang berselingkuh sebenarnya memiliki pasangan yang secara fisik menarik. Dorongan utama di balik perselingkuhan seringkali adalah untuk mengatasi rasa tidak aman dalam diri, mendapatkan validasi diri, atau bahkan sebagai bentuk ekspresi kebencian terhadap pasangan. Proses perubahan bagi para pelaku perselingkuhan memang menantang dan membutuhkan waktu, komitmen, serta pendekatan psikologis yang tepat, seperti terapi, untuk dapat mengatasi akar masalah perilaku tersebut.

Motivasi di Balik Perilaku Perselingkuhan

Seringkali, individu yang terlibat dalam perselingkuhan tidak didorong oleh kurangnya daya tarik fisik dari pasangan mereka. Faktanya, menurut psikolog Linda Hatch, banyak dari mereka memiliki pasangan yang menarik secara fisik. Motif utama perselingkuhan justru seringkali berasal dari dalam diri, seperti keinginan untuk mengatasi rasa tidak aman atau mencari validasi pribadi. Beberapa kasus perselingkuhan bahkan merupakan ekspresi kebencian terhadap pasangan yang dirasa terlalu dominan. Psikolog berpendapat bahwa tindakan ini berfungsi sebagai mekanisme pelarian dari luka batin, ketakutan, atau emosi negatif yang mendalam, memberikan rasa 'hebat' sementara bagi pelakunya.

Perselingkuhan adalah perilaku kompleks yang mencerminkan berbagai dinamika psikologis. Data menunjukkan bahwa sebagian besar pria dan wanita pernah berselingkuh, dengan rekan kerja menjadi pihak ketiga yang paling umum. Rata-rata, hubungan terlarang ini berlangsung selama dua tahun. Linda Hatch juga mengungkapkan bahwa ada tipe pelaku perselingkuhan yang termotivasi oleh kebutuhan akan validasi seksual, di mana mereka merasa harga diri mereka hanya ditentukan oleh daya tarik fisik. Kondisi ini membuat mereka rentan terhadap 'kecanduan' menggoda dan mencari perhatian, terus-menerus mencari konfirmasi dari orang lain untuk memuaskan kebutuhan validasi yang tidak terpenuhi dalam diri mereka.

Jalan Menuju Perubahan dan Pemulihan

Para psikolog sepakat bahwa individu yang memiliki riwayat perselingkuhan dapat berubah, namun proses ini membutuhkan investasi waktu, komitmen sungguh-sungguh, dan intervensi psikologis yang tepat. Perselingkuhan, seperti bentuk kecanduan lainnya, seringkali berfungsi sebagai mekanisme koping untuk menghindari rasa sakit, ketidakamanan, atau emosi negatif. Transformasi sejati hanya dapat terjadi jika individu bersedia menghadapi kerentanan diri, mengubah pola pikir yang tidak sehat, dan sepenuhnya melepaskan kebiasaan yang memicu perselingkuhan. Ini bukan perjalanan yang instan, melainkan sebuah evolusi bertahap yang memerlukan kesabaran dan dukungan berkelanjutan.

Pemulihan dari perilaku perselingkuhan melibatkan serangkaian tahapan yang menantang. Godaan dan rintangan akan selalu ada sepanjang perjalanan ini. Namun, dengan bantuan terapi yang sesuai dan sistem pendukung yang kuat, perubahan positif menjadi sangat mungkin. Proses pemulihan ini dapat diibaratkan seperti mengatasi kecanduan lainnya, di mana individu harus bekerja keras untuk membongkar kebiasaan buruk yang telah terbentuk selama bertahun-tahun. Meskipun ada potensi tarikan untuk kembali ke pola lama, ketekunan dalam terapi dan dukungan emosional dapat membantu individu membangun kembali hidup mereka di atas fondasi yang lebih sehat dan otentik. Hal ini memungkinkan mereka untuk mengembangkan hubungan yang lebih bermakna dan berlandaskan kepercayaan.