
Dunia sepak bola telah melahirkan segelintir individu yang berhasil mencapai puncak kemakmuran finansial, bahkan hingga menyandang status miliarder. Kisah mereka bukan hanya tentang kehebatan di lapangan hijau, tetapi juga tentang visi, warisan, dan kemampuan beradaptasi di luar karier profesional. Mari kita telusuri jejak tiga pesepakbola yang diperkirakan akan menjadi bagian dari kelompok "crazy rich" pada tahun 2025, yang kekayaannya bersumber dari berbagai jalur yang menarik.
Profil Kekayaan Pesepakbola Dunia
Pada tanggal 1 Agustus 2025, sorotan dunia tertuju pada tiga nama besar dalam jagat sepak bola yang diproyeksikan akan memiliki harta melimpah, bahkan mencapai status miliarder. Di antara mereka adalah Cristiano Ronaldo, seorang mega bintang yang namanya sudah tak asing lagi, seorang anggota kesultanan Brunei, dan juga seorang legenda yang sukses dalam dunia bisnis pasca-pensiun. Ini bukan sekadar pendapatan dari bermain bola, melainkan hasil dari strategi finansial cerdas dan, dalam beberapa kasus, latar belakang keluarga yang istimewa.
Yang pertama, tidak lain adalah Cristiano Ronaldo. Setelah menandatangani kesepakatan yang luar biasa menguntungkan dengan klub Al-Nassr, sang kapten Portugal itu dikabarkan telah mengukuhkan posisinya sebagai pesepakbola pertama yang mandiri membangun kekayaan hingga mencapai status miliarder. Meskipun perdebatan tentang kekayaannya sudah mencuat sejak tahun 2020, penghasilannya yang fantastis dari kontraknya di Arab Saudi, yang dilaporkan mencapai £488.000 (sekitar Rp 10,6 miliar) setiap hari, ditambah dengan berbagai kesepakatan sponsor, secara resmi menempatkannya di jajaran teratas atlet terkaya di dunia menurut Forbes. Keputusannya untuk memperpanjang kontrak hingga tahun 2027 semakin memperkuat dominasinya dalam finansial sepak bola.
Kemudian, ada Faiq Bolkiah, seorang pemain sayap berusia 27 tahun yang kini membela Ratchaburi di liga utama Thailand. Berbeda dari kebanyakan, kekayaannya yang luar biasa tidak berasal dari karier sepak bolanya yang terbilang biasa-biasa saja. Sebagai anggota keluarga kerajaan Brunei, statusnya sebagai pewaris takhta telah menempatkannya dalam daftar miliarder. Meski demikian, Bolkiah dikenal akan kesederhanaannya. Ia menegaskan fokus utamanya adalah pada sepak bola, tanpa terpengaruh oleh latar belakang keluarganya yang sangat mewah. Mantan pelatihnya bahkan memuji kepribadiannya yang rendah hati, menyebutnya sebagai pribadi yang sangat normal meskipun memiliki keistimewaan yang luar biasa.
Terakhir, ada Louis Saha, mantan penyerang yang pernah membela klub-klub top seperti Manchester United, Fulham, dan Everton. Jika saat bermain Saha mungkin telah mengumpulkan sejumlah besar uang, kekayaannya justru melonjak drastis setelah gantung sepatu. Saha mendirikan AxisStar, sebuah platform media sosial inovatif yang menghubungkan para atlet dengan berbagai penyedia layanan dan merek terkemuka. Bisnis ini dilaporkan telah mencapai valuasi lebih dari £4 miliar (sekitar Rp 87 triliun), menjadikannya seorang miliarder berkat kecerdasannya di dunia bisnis. Selain itu, Saha juga tetap aktif di dunia sepak bola sebagai komentator Liga Primer, menunjukkan kecintaannya pada olahraga yang membesarkan namanya.
Kisah-kisah ini menegaskan bahwa menjadi miliarder di dunia sepak bola tidak selalu bergantung pada jumlah gol atau trofi yang diraih. Ada jalan lain, yang melibatkan warisan, inovasi bisnis, dan kemampuan untuk melihat peluang di luar lapangan. Ini adalah bukti bahwa semangat kewirausahaan dan latar belakang yang kuat dapat menjadi pendorong kekayaan yang sama dahsyatnya dengan bakat alami di olahraga.
