
Dalam beberapa waktu terakhir, bank-bank sentral di berbagai belahan dunia memperlihatkan kembali antusiasme mereka dalam mengakuisisi emas. Meskipun volume pembelian pada periode ini tidak mencapai angka fantastis seperti beberapa tahun sebelumnya yang melampaui 1.000 ton setiap tahunnya, kecenderungan bank sentral untuk menimbun emas secara global tetap tidak mereda. Hal ini diyakini sebagai langkah strategis untuk memperkaya portofolio aset mereka, mengurangi ketergantungan pada mata uang dolar Amerika Serikat, terutama di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan dan kebijakan proteksionisme.
Detail Berita Internasional: Gelombang Akuisisi Emas oleh Bank Sentral
Laporan terbaru dari World Gold Council (WGC) yang dirilis pada hari Senin, 18 Agustus 2025, menyoroti aktivitas pembelian emas bersih sebesar 166 ton oleh berbagai bank sentral hingga akhir Juni 2025. Angka ini memang menunjukkan penurunan sekitar 33% secara kuartalan dibandingkan periode sebelumnya. Namun, penting untuk dicatat bahwa volume ini masih 41% lebih tinggi dari rata-rata kuartalan yang tercatat antara tahun 2010 dan 2021, sebelum lonjakan akuisisi emas terjadi secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Untuk paruh pertama tahun 2025, total pembelian emas mencapai 415 ton, sedikit di bawah 525 ton yang tercatat pada tahun sebelumnya. Ini merupakan periode enam bulan terendah sejak tahun 2022. WGC mengemukakan bahwa harga emas yang tinggi, ditambah dengan kondisi ekonomi dan geopolitik global yang tidak stabil, kemungkinan menjadi faktor yang memperlambat laju pembelian oleh bank sentral.
Madhavankutty G, seorang ekonom terkemuka dari Canara Bank, menjelaskan bahwa tren pembelian emas oleh bank sentral sejalan dengan narasi dedolarisasi. Negara-negara berupaya mendiversifikasi cadangan devisa mereka untuk mengurangi dominasi dolar AS. Meskipun dolar masih memegang peran penting, pangsanya dalam cadangan devisa telah menurun drastis, memberikan keuntungan bagi emas sebagai alternatif yang menarik. Madhavankutty juga menambahkan bahwa keamanan intrinsik emas adalah manfaat tambahan yang signifikan. Kebijakan tarif AS telah menciptakan ketidakpastian global, yang diperkirakan akan menjaga harga emas tetap tinggi. Secara historis, hubungan terbalik antara imbal hasil obligasi pemerintah AS dan harga emas telah berubah, mengindikasikan bahwa meskipun imbal hasil obligasi tetap tinggi, permintaan emas juga akan terus meningkat.
Bank sentral, meskipun pembeli strategis, tidak mengabaikan fluktuasi harga. Namun, mereka terus menambah pasokan emas bahkan di tengah harga yang lebih tinggi, menunjukkan keyakinan berkelanjutan mereka terhadap emas sebagai aset pelindung di masa ketidakpastian.
Secara spesifik, Bank Cadangan India (RBI) telah membeli hampir setengah ton emas pada pekan terakhir Juni. Stok emas RBI mencapai hampir 880 ton pada 27 Juni 2025, dengan pangsanya dalam cadangan devisa India meningkat menjadi 12,1% per 18 Juli 2025, dari 8,9% pada 19 Juli 2024. Bank Nasional Polandia (NBP) juga menambah 19 ton ke cadangan emasnya pada kuartal kedua tahun 2025. Sementara itu, Bank Rakyat Tiongkok (PBoC) melaporkan pembelian 6 ton, yang merupakan separuh dari akuisisi kuartal sebelumnya. Data WGC menunjukkan bahwa cadangan emas Tiongkok kini mencapai 2.299 ton.
Survei Cadangan Emas Bank Sentral WGC 2025, yang melibatkan 73 bank sentral, menunjukkan bahwa 95% responden memproyeksikan peningkatan cadangan emas dalam 12 bulan ke depan, menggarisbawahi optimisme mereka terhadap peran emas di masa depan.
Fenomena akuisisi emas oleh bank sentral ini membuka wawasan baru tentang perubahan lanskap keuangan global. Ini bukan sekadar transaksi keuangan biasa, melainkan cerminan dari strategi besar untuk mitigasi risiko di tengah ketidakpastian ekonomi dan pergeseran kekuatan geopolitik. Sebagai seorang pengamat, saya melihat ini sebagai sinyal kuat bahwa negara-negara sedang mencari perlindungan dari volatilitas dan potensi guncangan di pasar global. Emas, dengan sejarah panjang sebagai penyimpan nilai yang stabil, kembali menjadi primadona. Ini juga menunjukkan bahwa konsep dedolarisasi, meskipun lambat, sedang bergerak maju, memicu pertanyaan tentang masa depan dominasi mata uang tunggal dalam cadangan devisa dunia. Tantangan ekonomi dan geopolitik modern mendorong para pembuat kebijakan untuk berpikir lebih jauh dan bertindak lebih berani dalam menjaga stabilitas dan kedaulatan ekonomi nasional.
