
Menanggapi dinamika ekonomi global, Bank Indonesia (BI) tengah mencermati potensi penyesuaian suku bunga acuan. Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengindikasikan bahwa meskipun ada kecenderungan untuk menurunkan suku bunga guna mendorong pertumbuhan ekonomi, kewaspadaan tinggi tetap diperlukan mengingat gejolak ekonomi dunia yang masih belum stabil.
Perry Warjiyo menjelaskan bahwa ketidakpastian global masih dipicu oleh kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat dengan sejumlah mitra dagang utamanya. Situasi ini berdampak pada pelemahan ekonomi global dan rendahnya tekanan inflasi. Namun, hal ini juga menimbulkan risiko signifikan terhadap stabilitas nilai tukar Rupiah di pasar keuangan. Oleh karena itu, BI berkomitmen kuat untuk menjaga stabilitas mata uang nasional.
Meski dihadapkan pada tantangan global, Perry Warjiyo menegaskan bahwa Indonesia perlu ruang kebijakan yang dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi. Sejalan dengan perkiraan inflasi yang tetap rendah, BI akan terus mencari celah untuk memangkas suku bunga di masa depan. Sebagai langkah konkret, Dewan Gubernur BI pada Agustus 2025 telah menurunkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 25 basis poin, menjadikannya 5%.
Langkah-langkah strategis yang diambil Bank Indonesia menunjukkan adaptasi dan ketahanan dalam menghadapi kompleksitas ekonomi global. Dengan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sekaligus mencari peluang penurunan suku bunga, BI berupaya menciptakan fondasi ekonomi yang kokoh demi kemajuan bangsa. Kebijakan ini mencerminkan optimisme dan komitmen untuk terus bekerja keras demi kesejahteraan seluruh masyarakat, menegaskan bahwa tantangan adalah kesempatan untuk tumbuh lebih kuat.
