Bank Indonesia Meluncurkan Kajian Stabilitas Keuangan Terbaru: KSK 45

Bank Indonesia telah meluncurkan publikasi Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) edisi 45, yang menitikberatkan pada upaya penguatan intermediasi dan ketahanan sistem keuangan nasional di tengah ketidakpastian global. Laporan ini menggarisbawahi pentingnya menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan pertumbuhan, sekaligus memaparkan langkah-langkah strategis untuk mengoptimalkan likuiditas perbankan dan mempercepat transmisi kebijakan moneter.

Deputi Gubernur BI, Juda Agung, menekankan bahwa di tengah dinamika ekonomi global yang penuh tantangan, Indonesia memiliki potensi besar untuk mencapai pertumbuhan yang lebih dinamis dan berdaya saing. Kajian ini diharapkan menjadi panduan bagi pemangku kepentingan dalam merumuskan mitigasi risiko dan mendorong kolaborasi untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Strategi Kebijakan BI untuk Ketahanan Ekonomi

Dalam menghadapi lanskap ekonomi global yang tidak menentu, Bank Indonesia (BI) telah mengambil langkah-langkah proaktif untuk memastikan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional. Melalui Kajian Stabilitas Keuangan No. 45 (KSK 45), BI mengidentifikasi strategi kunci yang berfokus pada pendorong intermediasi dan penguatan ketahanan. Deputi Gubernur BI, Juda Agung, menjelaskan bahwa inti dari strategi ini adalah mencari titik temu antara stabilitas makroekonomi dan dorongan pertumbuhan. Ini mencakup evaluasi potensi pelonggaran lebih lanjut pada BI rate untuk meningkatkan transmisi, penyesuaian struktur instrumen moneter dan swap valuta asing guna memperkuat efektivitas transmisi, serta penambahan likuiditas pasar uang secara terukur melalui penyesuaian Sertifikat Bank Indonesia (SRBI) dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Langkah-langkah ini dirancang untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi sektor perbankan untuk menyalurkan kredit, menurunkan suku bunga, dan memperkuat fondasi keuangan secara keseluruhan.

Kebijakan makroprudensial BI, terutama melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), menjadi pilar utama dalam upaya ini. Peningkatan porsi KLM dari 4% menjadi 5% pada awal April 2025 menunjukkan komitmen BI untuk menyediakan ruang gerak yang lebih luas bagi perbankan. Insentif likuiditas ini, yang telah mencapai Rp384 triliun pada awal Agustus 2025, dialokasikan secara strategis ke sektor-sektor prioritas seperti pertanian, real estat, perumahan rakyat, konstruksi, perdagangan, manufaktur, transportasi, pergudangan, pariwisata, ekonomi kreatif, serta UMKM dan usaha ultra mikro. Dengan mendorong bank untuk realokasi likuiditas ke kredit dan mempercepat penurunan suku bunga, BI bertujuan agar likuiditas ini tidak hanya tertahan di sektor perbankan, tetapi benar-benar mengalir ke sektor riil, menjadi katalis bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan. KSK 45 diharapkan menjadi peta jalan strategis bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memahami dinamika sistem keuangan dan merumuskan langkah-langkah mitigasi yang efektif.

Mendorong Intermediasi dan Keseimbangan Likuiditas

Dalam konteks penguatan intermediasi, Bank Indonesia melihat bahwa likuiditas yang melimpah di sektor perbankan harus dioptimalkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Kebijakan makroprudensial yang longgar, operasi moneter yang cermat, dan insentif likuiditas dirancang untuk memberikan keleluasaan bagi bank-bank. Namun, tantangan utama adalah mendorong bank untuk tidak hanya menimbun likuiditas, melainkan secara aktif menyalurkannya dalam bentuk kredit. Oleh karena itu, BI mendorong perbankan untuk segera merealokasi dana dari cadangan likuiditas ke penyaluran kredit, serta berani mempercepat penurunan suku bunga dana dan kredit. Ini adalah langkah krusial untuk memastikan bahwa stimulus kebijakan BI benar-benar terasa di perekonomian riil. Fokus kebijakan BI terangkum dalam empat pilar utama: mencermati peluang pelonggaran BI rate lebih lanjut, memperkuat efektivitas transmisi kebijakan melalui penyesuaian instrumen moneter dan swap valas, menambah likuiditas pasar uang secara terukur, serta melanjutkan pelonggaran makroprudensial untuk mendorong penyaluran kredit dan memperkuat ketahanan perbankan.

Penerbitan KSK 45 yang bertepatan dengan seminar nasional bertema \"Menavigasi Tantangan Ekonomi Global melalui Intermediasi dan Ketahanan Sistem Keuangan\" menegaskan komitmen Bank Indonesia untuk menciptakan dialog dan kolaborasi. Seminar ini, yang menghadirkan narasumber dari berbagai otoritas dan sektor keuangan, bertujuan untuk mengumpulkan pandangan dan wawasan guna memperkaya pemahaman tentang perkembangan sistem keuangan saat ini. Fokus pada stabilitas sistem keuangan Indonesia pada semester I 2025, yang terjaga di tengah gejolak global berkat ketahanan perbankan, industri keuangan non-bank, serta korporasi dan rumah tangga, menjadi bukti efektivitas kebijakan yang telah diterapkan. Dengan semangat kolaborasi antara regulator, pelaku pasar, dan akademisi, diharapkan likuiditas yang ada dapat menjadi kekuatan pendorong ekonomi yang menghasilkan pertumbuhan yang lebih inklusif, kuat, dan berkelanjutan, mengatasi risiko kompleks yang mungkin muncul di masa mendatang.