Asal Mula Istilah 'Hidung Belang' dan Kisah Tragis di Baliknya

Istilah 'hidung belang' yang populer di masyarakat untuk merujuk pada pria playboy, ternyata memiliki akar sejarah yang mengerikan dan kelam, jauh dari sekadar konotasi perilaku amoral. Ungkapan ini tidak muncul begitu saja, melainkan lahir dari sebuah peristiwa nyata yang tragis pada masa Batavia kolonial di bawah pemerintahan VOC, di mana hidung seseorang benar-benar 'belang' akibat hukuman brutal. Kisah di baliknya melibatkan dua individu muda yang menjadi korban kekuasaan, melukiskan gambaran suram tentang konsekuensi cinta terlarang di zaman yang penuh kekerasan.

Peristiwa ini menjadi pengingat pahit akan kekejaman hukum kolonial dan bagaimana sebuah ungkapan sehari-hari dapat memiliki latar belakang yang begitu mencekam. Dari sebuah kisah cinta yang berujung pada eksekusi publik, terciptalah istilah yang terus hidup hingga kini, meski maknanya telah bergeser dari harfiahnya. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan sejarah kelam, tetapi juga evolusi bahasa yang terus beradaptasi seiring perubahan zaman, menyimpan jejak-jejak masa lalu dalam frasa-frasa yang kita gunakan sehari-hari.

Akar Sejarah 'Hidung Belang' di Batavia

Istilah 'hidung belang' yang kini digunakan untuk mendeskripsikan pria yang gemar mempermainkan perasaan wanita, memiliki asal-usul yang jauh lebih suram dan literal. Sejarahnya berakar pada peristiwa tragis di Batavia pada masa pemerintahan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Ini bukan sekadar kiasan, melainkan gambaran fisik yang benar-benar terjadi akibat hukuman kejam. Hukuman ini dijatuhkan kepada seorang tentara muda, Pieter Cortenhoeff, dan seorang gadis belia, Sara Speckx, yang terlibat dalam hubungan terlarang, menentang aturan moral dan sosial yang diberlakukan oleh penguasa VOC.

Kisah ini bermula dari Pieter Cortenhoeff, seorang tentara VOC berusia 17 tahun yang tampan dan gagah, yang bertugas di Kastil Batavia. Daya tariknya memikat banyak wanita, termasuk Sara Speckx, gadis berusia 13 tahun berparas cantik campuran Belanda dan Jepang, putri dari pejabat tinggi VOC, Jacques Specx. Meskipun status sosial mereka sangat berbeda dan ada larangan keras terhadap hubungan asmara sembarangan di lingkungan istana Gubernur Jenderal J.P. Coen, benih cinta tumbuh di antara mereka. Larangan ini bahkan bisa berujung pada hukuman berat, termasuk kematian. Namun, gairah cinta membimbing Pieter untuk menyuap penjaga benteng agar bisa bertemu Sara secara rahasia di malam hari.

Tragedi Pieter dan Sara

Meskipun Pieter dan Sara berusaha menjaga hubungan rahasia mereka dari mata VOC yang ketat, nasib buruk tidak dapat dihindari. Pertemuan rahasia mereka pada suatu malam di kediaman pribadi J.P. Coen akhirnya terbongkar. Seorang petugas mendapati mereka berdua dan segera melaporkan kejadian tersebut kepada Gubernur Jenderal. J.P. Coen, yang dikenal tegas dan tanpa kompromi, sangat murka dan merasa malu atas skandal yang melibatkan anak seorang pejabat tinggi dengan seorang tentara berpangkat rendah. Tanpa banyak pertimbangan, ia menjatuhkan hukuman yang sangat kejam: eksekusi mati dengan pemenggalan kepala.

Meskipun banyak pendeta di Batavia memohon pengampunan, terutama mengingat usia Pieter dan Sara yang masih sangat muda, J.P. Coen tetap pada keputusannya. Eksekusi publik yang mengerikan ini dilaksanakan di depan Balai Kota, yang kini dikenal sebagai Kota Tua. Sebelum dipenggal, Pieter dan Sara diseret dan dicambuk. Pakaian Sara dilucuti, sementara wajah Pieter dicoret-coret dengan warna hitam dan putih, membuatnya terlihat 'belang' sebagai simbol perbuatannya yang dianggap amoral. Saat kepala Pieter terpisah dari tubuhnya dan jatuh ke tanah, para penonton yang terkejut dan mungkin merasa ngeri secara spontan berteriak, “Hidung Belang!” Sejak saat itulah, frasa 'hidung belang' menjadi populer, merujuk pada pria yang mempermainkan wanita dan terlibat dalam tindakan asusila.