Analisis Sekuritas Asing Terhadap Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2026: Dampak pada IHSG dan Rupiah

Laporan ini membahas pandangan dari perusahaan sekuritas asing dan pelaku pasar terhadap arah kebijakan fiskal Indonesia untuk tahun 2026, khususnya dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN), serta implikasinya terhadap pasar saham dan mata uang rupiah.

Strategi Fiskal 2026: Mengukur Optimisme Pasar dan Tantangan Implementasi

Perspektif Pasar Terhadap Rencana Anggaran Pemerintah Tahun 2026

Para pelaku pasar menyambut baik rencana keuangan pemerintah untuk tahun 2026, yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,4%. Rencana ini didasari pada empat pilar fundamental: pendorong investasi, peningkatan ekspor, pengembangan ekonomi digital, dan penguatan hilirisasi industri. Optimisme ini muncul dari keyakinan bahwa kerangka fiskal yang baru akan membawa stabilitas dan pertumbuhan.

Komitmen Disiplin Fiskal dan Daya Tarik Investasi

Changkun Shin, Direktur Utama Kiwoom Sekuritas Indonesia, menyatakan bahwa RAPBN 2026 memberikan sinyal positif, terutama melalui komitmen pemerintah untuk menjaga disiplin fiskal. Langkah ini krusial untuk mempertahankan dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Stabilitas fiskal adalah fondasi utama yang menarik modal asing dan domestik.

Arah Pembangunan Ekonomi: Dari Hilirisasi hingga Energi Terbarukan

Shin juga menyoroti fokus pemerintah pada percepatan hilirisasi, digitalisasi, dan pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Inisiatif ini dipandang sebagai langkah strategis untuk diversifikasi ekonomi dan peningkatan nilai tambah. Namun, keberhasilan program-program ini sangat bergantung pada konsistensi dan efektivitas implementasi kebijakan di lapangan.

Dampak Kebijakan Moneter Terhadap Dinamika Pasar Keuangan Nasional

Penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia, ditambah dengan kemungkinan penurunan suku bunga acuan oleh Federal Reserve (The Fed) AS, diantisipasi akan menjadi katalis positif bagi pasar keuangan Indonesia. Lingkungan suku bunga yang lebih rendah cenderung meningkatkan daya tarik aset-aset berisiko, yang dapat mendorong penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan stabilitas nilai tukar Rupiah, serta memberikan dorongan bagi pasar obligasi.