Analisis Pakar UOB: Dampak Tarif Trump Terhadap Ekonomi Global, Dolar, dan Investasi

Kebijakan tarif yang diterapkan oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terus menjadi sorotan utama dalam lanskap ekonomi global. Meskipun sebagian besar negara di benua Asia awalnya merasa sedikit lega karena tarif yang diberlakukan tidak terlalu tinggi, ketidakpastian mengenai masa depan kesepakatan dagang dan langkah-langkah selanjutnya tetap membayangi. Situasi ini, diperparah dengan kemungkinan melambatnya perekonomian global dan Amerika Serikat pada paruh kedua tahun ini, memicu kenaikan kurva imbal hasil AS yang pada gilirannya memberikan tekanan signifikan pada nilai Dolar AS.

Detail Berita Ekonomi Global dan Prospek Dolar AS

Pada tanggal 1 Agustus 2025 yang lalu, Donald Trump, sesuai janjinya, secara resmi menyelesaikan penerapan seluruh paket tarif timbal balik yang sebelumnya telah diumumkan sejak April. Meskipun Howard Lutnick, Menteri Perdagangan AS, menyatakan bahwa tarif yang berlaku pasca-1 Agustus ini bersifat final, banyak pihak memperkirakan bahwa negosiasi perdagangan akan terus berlanjut hingga beberapa bulan ke depan. Kesepakatan perdagangan terbesar di dunia antara Amerika Serikat dan Tiongkok masih belum mencapai titik temu. Setelah putaran perundingan ketiga, kedua negara sepakat untuk memperpanjang pembahasan selama 90 hari. Isu-isu sensitif yang dibahas mencakup akses teknologi AI dan semikonduktor untuk Tiongkok, serta ekspor sumber daya alam langka dan mineral ke Amerika Serikat. Hasil negosiasi ini dipastikan akan memiliki dampak besar pada perekonomian Tiongkok dan prospek ekonomi Asia secara keseluruhan.

Heng Koon How, selaku Head of Markets Strategy di UOB, menegaskan bahwa dampak terbesar dari kebijakan tarif ini terhadap Dolar AS akan terasa dalam jangka panjang. Implementasi tarif ini akan mendorong berbagai negara untuk merestrukturisasi arah perdagangan mereka, mengurangi ketergantungan pada pasar AS, dan membatasi penggunaan Dolar dalam transaksi global. Hal ini, menurut Heng, jelas akan menjadi tekanan negatif bagi nilai mata uang Paman Sam. Berdasarkan perhitungan Peterson Institute for International Economics (PIIE), jika digabungkan, rata-rata tarif AS atas impor dari Tiongkok telah mencapai 54,9 persen, sementara rata-rata tarif Tiongkok atas impor dari AS adalah 32,6 persen. Angka setinggi ini tentu bukan pertanda baik bagi pertumbuhan ekonomi dunia.

Di sisi lain, kesepakatan dagang dengan negara-negara besar lainnya seperti India, Kanada, dan Brasil terhambat oleh isu-isu geopolitik dan kebijakan luar negeri yang tidak secara langsung berkaitan dengan perdagangan. Beberapa perjanjian yang telah ditandatangani juga disertai dengan komitmen investasi besar-besaran ke Amerika Serikat, contohnya 350 miliar Dolar AS dari Korea Selatan, 550 miliar Dolar AS dari Jepang, dan 600 miliar Dolar AS dari Uni Eropa. Namun, banyak pihak di negara-negara tersebut meragukan dan menolak kesepakatan ini. Pertanyaan besar yang muncul adalah dari mana dana sebesar itu akan didapatkan, dan bagaimana implementasinya. Ada kemungkinan besar bahwa komitmen ini pada akhirnya akan dikurangi atau bahkan dibatalkan, yang tentunya akan mengguncang kelanjutan perjanjian tersebut.

Heng Koon How juga menambahkan, masih banyak pertanyaan mengenai cara penerapan tarif untuk kategori barang tertentu, seperti “tarif Sektor 232” untuk industri otomotif, semikonduktor, dan farmasi, serta “tarif transshipment” untuk barang-barang yang dianggap dialihkan melalui negara ketiga demi menghindari bea masuk.

Di tengah kompleksitas kebijakan tarif ini, kondisi ekonomi Amerika Serikat dan global kini berada di persimpangan jalan. Menariknya, paruh pertama tahun ini berjalan cukup baik bagi banyak negara, termasuk di Asia. Dorongan ekspor telah membuat Singapura mencatat pertumbuhan PDB sebesar 4,2 persen pada semester pertama, di atas tren yang biasa. Bahkan, Taiwan berhasil mencatat lonjakan PDB hampir 8 persen pada kuartal kedua. Berkat ketahanan ekonomi Tiongkok, IMF merevisi proyeksi pertumbuhan PDB negara-negara berkembang pada tahun 2025 menjadi 4,1 persen dari sebelumnya 3,7 persen. Namun, data PDB adalah indikator yang bersifat mundur. Banyak otoritas memperingatkan bahwa ke depan, hal ini bisa “berbalik arah,” seiring dengan tarif yang lebih tinggi mulai terasa dampaknya. Efek penumpukan ekspor sebelum tarif berlaku kemungkinan besar sudah berakhir, dan perekonomian Asia, termasuk Tiongkok, berpotensi menghadapi perlambatan manufaktur. Sebagai bukti, indeks PMI manufaktur resmi Tiongkok justru turun menjadi 49,3 pada bulan Juli, berlawanan dengan ekspektasi yang mengarah ke angka 50, menandakan perlambatan sudah mulai terasa.

Ekonomi Amerika Serikat juga tumbuh 3 persen secara tahunan pada kuartal kedua, lebih baik dari perkiraan. Namun, kini muncul perdebatan sengit: apakah efek negatif dari tarif yang semakin tinggi akan benar-benar mulai membebani ekonomi Amerika Serikat pada paruh kedua tahun ini? Jerome Powell, Ketua The Fed, mengakui bahwa sejauh ini pelaku impor di AS masih mampu menahan beban tarif. Namun, dengan tarif baru yang berlaku per 1 Agustus, beban ini akan semakin sulit dipikul, memicu kenaikan harga konsumen, penurunan permintaan, dan hambatan pertumbuhan ekonomi.

UOB memperkirakan The Fed akan kembali memangkas suku bunga pada pertemuan FOMC bulan September, setelah laporan tenaga kerja non-pertanian (NFP) bulan Juli yang mengecewakan. Dalam tiga bulan terakhir, rata-rata penambahan lapangan kerja hanya 35.000, nyaris stagnan, menandakan pasar tenaga kerja mulai melemah. Pemangkasan suku bunga ini akan menekan imbal hasil jangka pendek, sementara imbal hasil obligasi AS jangka panjang kemungkinan tetap tinggi karena kekhawatiran akan beban utang AS yang membengkak. Kondisi ini membuat kurva imbal hasil semakin menanjak dan memberikan tekanan tambahan pada Dolar AS.

Lebih dari itu, Dolar AS menghadapi tekanan struktural jangka panjang. Banyak negara menyadari bahwa tarif tinggi dari Amerika Serikat akan bertahan lama. Untuk mengurangi risiko, mereka mulai memindahkan rantai pasokan, memperluas perdagangan dengan negara lain, dan memperkuat perdagangan intra-regional. Perubahan struktural ini dikatakan dapat mempercepat proses dedolarisasi dan mengurangi minat untuk menempatkan cadangan perdagangan dalam bentuk obligasi AS. Keduanya jelas berdampak buruk bagi nilai Dolar dalam jangka panjang. Beberapa mata uang Asia sudah menguat terhadap Dolar AS dalam beberapa bulan terakhir. Dolar Singapura, misalnya, menguat hingga di bawah 1,3 per Dolar AS dan kemungkinan akan bertahan di kisaran ini. Monetary Authority of Singapore (MAS) diperkirakan akan menunda pelonggaran kebijakan moneter hingga Oktober atau Januari mendatang, menunggu bukti bahwa efek penumpukan ekspor sebelum tarif benar-benar mereda. Indeks Dolar AS (DXY) kini sudah jatuh di bawah level 100. UOB memperkirakan indeks ini akan turun menuju 97 di akhir tahun ini, dan 95 pada pertengahan tahun depan.

Tak perlu diragukan lagi, permintaan terhadap aset 'safe haven' tetap kuat. UOB tetap optimistis terhadap emas, yang diperkirakan akan naik hingga 3.700 Dolar AS per ons pada pertengahan tahun depan. Presiden Trump mungkin akan dikenang karena slogan “Make America Great Again.” Namun, untuk membuat Dolar AS kembali berjaya, itu sepertinya bukan cerita yang akan terjadi dalam waktu dekat, pungkas Heng Koon How.

Dari perspektif seorang pengamat ekonomi, laporan ini memberikan gambaran yang komprehensif mengenai kompleksitas dan implikasi jangka panjang dari kebijakan perdagangan yang agresif. Ini bukan hanya sekadar perang dagang, melainkan pergeseran fundamental dalam arsitektur ekonomi global. Pesan utamanya adalah perlunya diversifikasi dan penguatan kerja sama regional bagi negara-negara yang ingin mengurangi kerentanan terhadap gejolak eksternal. Selain itu, pandangan tentang dedolarisasi mengindikasikan adanya pergeseran kekuasaan ekonomi secara global, di mana dominasi Dolar AS mungkin akan perlahan terkikis, membuka jalan bagi mata uang lain untuk memainkan peran yang lebih sentral di kancah internasional. Bagi investor, ini adalah peringatan untuk mencari aset yang lebih stabil dan tidak terlalu terpengaruh oleh fluktuasi geopolitik.