Analis Mengaitkan Penurunan Tajam IHSG dengan Unjuk Rasa dan Ketidakpastian Pasar

Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 2% pada perdagangan baru-baru ini telah memicu analisis mendalam dari para pakar pasar modal. Konsensus yang berkembang menunjukkan bahwa gejolak politik, khususnya demonstrasi yang berujung pada insiden tragis, menjadi faktor utama di balik kemerosotan ini. Sentimen investor yang memburuk dan potensi penarikan dana asing akibat ketidakpastian stabilitas politik menciptakan tekanan signifikan pada pasar saham domestik.

Arjun Ajwani, seorang Analis Riset dari Infovesta Kapital Advisori, mengemukakan bahwa suasana pasar sangat dipengaruhi oleh demonstrasi. Peristiwa tersebut, menurutnya, dapat mengubah psikologi investor secara drastis, sehingga menghambat masuknya aliran modal asing. Ia menegaskan bahwa dampak negatif dari ketidakstabilan politik sangat terasa di kalangan investor, yang pada gilirannya menahan investasi di pasar saham.

Selain itu, Arjun juga menyoroti sinyal teknikal pelemahan momentum kenaikan IHSG. Indeks gagal mempertahankan posisinya di atas level krusial 8.000 sebanyak dua kali. Kegagalan ini memberikan indikasi kuat bahwa tren bullish yang sempat terjadi mulai kehilangan kekuatannya dan mengisyaratkan adanya potensi koreksi lebih lanjut. Apabila IHSG tidak mampu bertahan di level 7.900, dan bahkan jatuh di bawah 7.800, pasar berpotensi besar untuk memasuki fase bearish. Faktor-faktor lain yang mendukung potensi koreksi ini termasuk pelemahan nilai tukar rupiah dan adanya arus keluar dana asing, meskipun dalam skala kecil, selama dua hari terakhir. Secara historis, bulan September juga sering kali menunjukkan tren koreksi di pasar.

Nafan Aji Gusta, Analis Pasar Senior di Mirae Asset Sekuritas, turut mengamini bahwa koreksi IHSG yang terjadi pada hari itu memiliki kaitan erat dengan aksi demonstrasi. Menurutnya, kondisi politik dan keamanan di dalam negeri memiliki pengaruh besar terhadap penurunan IHSG pada pembukaan perdagangan. Selain itu, ia juga menekankan pola historis yang menunjukkan bahwa IHSG cenderung melemah pada bulan September dalam lima tahun terakhir, meskipun ada harapan untuk pemulihan pada periode Oktober hingga Desember. Nafan memperingatkan bahwa jika IHSG terus diperdagangkan di bawah level 7.750, kemungkinan besar pasar akan memasuki fase konsolidasi bearish.

Singkatnya, gejolak demonstrasi, ditambah dengan indikator teknikal yang menunjukkan pelemahan, arus keluar modal, dan pola musiman pasar, telah menciptakan kondisi yang tidak menguntungkan bagi IHSG. Ke depan, stabilitas politik dan kepercayaan investor akan menjadi kunci untuk pemulihan pasar saham Indonesia.