
Alexander Ramlie, seorang tokoh penting di PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), baru-baru ini melakukan divestasi signifikan atas sahamnya di perusahaan tambang tersebut. Penjualan ini melibatkan jutaan lembar saham dan menghasilkan nilai triliunan rupiah, mencerminkan keputusan strategis untuk tujuan investasi pribadi di tengah dinamika pasar yang terus berubah. Peristiwa ini menarik perhatian pelaku pasar dan pengamat industri, mengingat posisi AMMN sebagai salah satu entitas pertambangan terkemuka.
Pada tanggal 26 Agustus 2025, Alexander Ramlie, yang menjabat sebagai Komisaris AMMN, tercatat menjual sekitar 283 juta lembar saham atau setara dengan 0,39% dari total kepemilikan perusahaan. Harga penjualan per saham ditetapkan pada Rp 8.075, sehingga total nilai transaksi mencapai Rp 2,3 triliun. Setelah penjualan ini, porsi kepemilikannya di AMMN berkurang menjadi 105.408.800 lembar saham atau sekitar 0,145%. Alexander menyatakan bahwa transaksi ini murni untuk keperluan investasi pribadinya, sebuah langkah yang umum terjadi di kalangan investor kelas kakap.
Sebelum transaksi yang dilakukan oleh Alexander Ramlie, pasar saham AMMN juga diwarnai oleh adanya penjualan besar di pasar negosiasi. Tepatnya pada 1 September 2025, sekitar 226.495.800 lembar saham AMMN berpindah tangan melalui transaksi negosiasi, dengan rata-rata harga Rp 8.073 per saham. Total nilai transaksi tersebut mencapai Rp 1,83 triliun. Ini menunjukkan adanya aktivitas perdagangan yang cukup tinggi dan minat yang besar terhadap saham AMMN di luar pasar reguler.
Pada hari yang sama dengan pengumuman transaksi Alexander Ramlie, nilai saham AMMN di pasar reguler mengalami penurunan sebesar 1,27%, ditutup pada level Rp 7.750 per saham. Meskipun demikian, volume perdagangan tetap tinggi dengan 22,09 juta saham berpindah tangan dan total nilai transaksi mencapai Rp 172,4 miliar. Fluktuasi harga saham ini adalah bagian dari dinamika pasar yang wajar, dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk sentimen investor dan berita korporasi.
Keterlibatan Grup Salim dalam kepemilikan AMMN juga menjadi sorotan. Grup ini masuk ke AMMN melalui penawaran umum perdana (IPO) melalui PT Sumber Gemilang Persada (SGP). Hingga 30 Juni 2025, SGP memegang 32,17% saham AMMN. Selain itu, Grup Salim juga memiliki kepemilikan tidak langsung melalui Medco, di mana Diamond Bridge Pte. Ltd., yang terafiliasi dengan Grup Salim, adalah pemegang saham Medco. Jejak Grup Salim di AMMN juga terlihat melalui PT Pesona Sukses Cemerlang (PSC), yang dimiliki oleh pengelola KFC di Indonesia, Fast Food Indonesia (FAST), serta Edie Herjadi, yang dikenal berafiliasi dengan perusahaan Grup Salim. Secara keseluruhan, kepemilikan tidak langsung Anthoni Salim di AMMN setelah IPO mencapai 7,14%, dan jika digabungkan, total kepemilikan Grup Salim melalui berbagai entitas bisnis diperkirakan mencapai 43,72%. Sementara itu, per 31 Juli 2025, pemegang manfaat terakhir AMMN adalah Agoes Projosasmito, melalui PT AP Investment dengan 15,45% dan secara langsung dengan 0,39%.
Penjualan saham oleh Alexander Ramlie mengindikasikan pergeseran dalam portofolio investasinya. Langkah ini, meskipun signifikan dalam skala finansial, merupakan bagian dari strategi investasi pribadi yang disesuaikan dengan kondisi pasar dan tujuan finansial individu. Pergerakan saham AMMN, baik di pasar reguler maupun negosiasi, terus diamati oleh pelaku pasar sebagai cerminan kesehatan dan prospek perusahaan di sektor pertambangan.
