
Kopi memang menjadi minuman favorit banyak orang dan sering dikaitkan dengan manfaat kesehatan tertentu seperti peningkatan energi dan potensi pembakaran lemak. Namun, bagi sebagian kelompok masyarakat, konsumsi kopi justru bisa membahayakan kesehatan. Peneliti menyebut ada 12 golongan orang yang disarankan untuk menghindari atau membatasi asupan kopi karena kondisi medis tertentu. Beberapa kondisi tersebut meliputi gangguan pencernaan, masalah mata, penyakit jantung, hingga ibu hamil dan menyusui.
Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah salah satu kondisi di mana penderita harus berhati-hati dalam mengonsumsi kopi. Kandungan kafein dalam kopi dapat melemaskan katup antara esofagus dan lambung, sehingga meningkatkan risiko refluks asam. Hal ini dapat memperburuk gejala GERD seperti rasa perih di dada. Ahli diet Sue Heikkinen menegaskan bahwa efek ini cukup signifikan bagi penderita gangguan pencernaan kronis.
Penderita glaukoma juga diminta waspada terhadap konsumsi kopi. Glaukoma merupakan gangguan pada saraf optik yang dipengaruhi oleh tekanan intraokular. Menurut ahli gizi Angel Planells, konsumsi kopi dapat sementara meningkatkan tekanan dalam mata, sehingga memperparah kondisi pasien. Meski masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut, studi dari Mount Sinai menunjukkan bahwa asupan kafein tinggi berkorelasi dengan peningkatan risiko glaukoma pada individu rentan.
Bagi penderita penyakit jantung, kafein diketahui bisa menyebabkan peningkatan sementara tekanan darah dan detak jantung. Kelli McGrane, ahli diet dari Lose It!, menyarankan agar mereka yang memiliki riwayat jantung segera berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi kopi. Studi dari American Journal of Clinical Nutrition menemukan bahwa efek kafein pada tekanan darah bersifat sementara, tetapi tetap perlu dicermati bagi penderita gangguan jantung.
Selain itu, penderita sindrom iritasi usus besar (IBS) juga tidak disarankan mengonsumsi minuman berkafein. Kafein diketahui memicu gejala utama IBS seperti diare dan peningkatan frekuensi buang air besar. Angel Planells menjelaskan bahwa rangsangan kafein pada sistem pencernaan bisa memperburuk kondisi pasien yang sensitif terhadap stimulan.
Ibu hamil dan menyusui juga termasuk dalam kelompok yang harus membatasi asupan kopi. American College of Obstetrics and Gynecology merekomendasikan batas maksimal 200 mL kafein per hari selama kehamilan untuk mengurangi risiko komplikasi seperti keguguran dan berat badan lahir rendah. Namun, sebuah studi tahun 2020 menyimpulkan bahwa tidak ada tingkat aman untuk konsumsi kafein selama masa kehamilan, sehingga sangat penting untuk konsultasi dengan dokter.
Bagi orang dengan gangguan tidur, kafein dinilai sebagai faktor utama yang dapat memperburuk pola istirahat. Sleep Foundation menyarankan untuk menghindari kafein minimal enam jam sebelum tidur. Sebuah penelitian dalam Journal of Clinical Sleep Medicine menunjukkan bahwa konsumsi kafein meskipun dalam jumlah sedang bisa mengganggu kualitas tidur dan memperpanjang waktu untuk tertidur.
Orang dengan kecemasan atau serangan panik juga disarankan untuk menghindari kopi. Menurut McGrane, kafein sebagai stimulan bisa memperparah gejala kecemasan, bahkan memicu serangan panik pada individu rentan. Hasil studi dari General Hospital Psychiatry mendukung hal ini dengan menunjukkan bahwa konsumsi lima cangkir kopi sehari berpotensi meningkatkan frekuensi serangan panik pada penderita gangguan kecemasan.
Individu yang mengalami diare juga sebaiknya menghindari kopi berkafein karena efeknya yang merangsang saluran pencernaan. Heikkinen menyarankan alternatif berupa kopi tanpa kafein, meskipun suhu panas dari minuman tersebut tetap bisa memengaruhi gerak usus. Oleh karena itu, pilihan terbaik bagi penderita diare adalah menghindari stimulan dan menjaga hidrasi tubuh.
Penderita epilepsi juga diminta untuk mempertimbangkan konsumsi kafein secara hati-hati. Meski belum ada kesimpulan pasti, beberapa studi menunjukkan hubungan antara konsumsi kopi dalam jumlah besar dengan peningkatan frekuensi kejang. Oleh karena itu, Planells menyarankan untuk berkonsultasi dengan ahli syaraf guna mengetahui apakah kafein aman dikonsumsi sesuai kondisi medis pasien.
Anak-anak di bawah usia 12 tahun juga termasuk dalam kelompok yang harus menghindari kafein. McGrane menekankan bahwa efek kafein pada anak-anak bisa lebih intens, seperti peningkatan detak jantung, kecemasan, serta gangguan konsentrasi. Selain itu, kandungan asam dalam kopi berpotensi merusak lapisan gigi dan meningkatkan risiko kerusakan email serta gigi berlubang.
Tidak hanya itu, orang dengan kandung kemih hiperaktif juga tidak disarankan mengonsumsi kopi secara berlebihan. Sue Heikkinen dari MyNetDiary menjelaskan bahwa kafein memiliki efek diuretik yang meningkatkan frekuensi buang air kecil. Bagi mereka yang memiliki aktivitas padat atau akses toilet terbatas, meminimalkan asupan kopi bisa menjadi langkah bijak untuk menghindari ketidaknyamanan.
